Saturday, February 7, 2009

10 HUKUM TUHAN


1. Akulah TUHANmu. Jangan ada padamu tuhan lain di hadapan-Ku.

2. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHANmu.

3. Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.

4. Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat [Minggu]. Enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu.

5. Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.

6. Jangan membunuh.

7. Jangan berzinah.

8. Jangan mencuri.

9. Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.

10. Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya [suaminya], atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apa pun yang dipunyai sesamamu.
HUKUM PERTAMA
Uraian hukum 1-10 ini dibuat oleh Pdt. Budi Asali M.Div. Semoga jadi berkat untuk kita semua.

Akulah TUHANmu. Jangan ada padamu tuhan lain di hadapan-Ku.

PENDAHULUAN

Ul 5:6-21 - “(6) Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan. (7) Jangan ada padamu allah lain di hadapanKu. (8) Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. (9) Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, (10) tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintahKu. (11) Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan. (12) Tetaplah ingat dan kuduskanlah hari Sabat, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu. (13) Enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, (14) tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau lembumu, atau keledaimu, atau hewanmu yang manapun, atau orang asing yang di tempat kediamanmu, supaya hambamu laki-laki dan hambamu perempuan berhenti seperti engkau juga. (15) Sebab haruslah kauingat, bahwa engkaupun dahulu budak di tanah Mesir dan engkau dibawa keluar dari sana oleh TUHAN, Allahmu dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung; itulah sebabnya TUHAN, Allahmu, memerintahkan engkau merayakan hari Sabat. (16) Hormatilah ayahmu dan ibumu, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, supaya lanjut umurmu dan baik keadaanmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu. (17) Jangan membunuh. (18) Jangan berzinah. (19) Jangan mencuri. (20) Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu. (21) Jangan mengingini isteri sesamamu, dan jangan menghasratkan rumahnya, atau ladangnya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya, atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu”.

Kel 20:1-17 - “(1) Lalu Allah mengucapkan segala firman ini: (2) ‘Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan. (3) Jangan ada padamu allah lain di hadapanKu. (4) Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. (5) Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, (6) tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintahKu. (7) Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut namaNya dengan sembarangan. (8) Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: (9) enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, (10) tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. (11) Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya. (12) Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu. (13) Jangan membunuh. (14) Jangan berzinah. (15) Jangan mencuri. (16) Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu. (17) Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.’”.

Tentang perbedaan 10 hukum Tuhan dalam Kel 20 dan dalam Ul 5 ada komentar sebagai berikut:

Barnes’ Notes: “Of the Words of Yahweh engraven on the tables of Stone, we have two distinct statements, one in Exodus (Exo. 20:1-17) and one in Deuteronomy (Deut. 5:7-21), apparently of equal authority, but differing principally from each other in the fourth, the fifth, and the tenth commandments. It has been supposed that the original commandments were all in the same terse and simple form of expression as appears (both in Exodus and Deuteronomy) in the first, sixth, seventh, eighth, and ninth, such as would be most suitable for recollection, and that the passages in each copy in which the most important variations are found were comments added when the books were written” (= ).

Kel 20:1-6 - “(1) Lalu Allah mengucapkan segala firman ini: (2) ‘Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan. (3) Jangan ada padamu allah lain di hadapanKu. (4) Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. (5) Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, (6) tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintahKu”.

KJV: ‘(1) And God spake all these words, saying, (2) I am the LORD thy God, which have brought thee out of the land of Egypt, out of the house of bondage. (3) Thou shalt have no other gods before me. (4) Thou shalt not make unto thee any graven image, or any likeness of any thing that is in heaven above, or that is in the earth beneath, or that is in the water under the earth: (5) Thou shalt not bow down thyself to them, nor serve them: for I the LORD thy God am a jealous God, visiting the iniquity of the fathers upon the children unto the third and fourth generation of them that hate me; (6) And shewing mercy unto thousands of them that love me, and keep my commandments’ (= ).

RSV: ‘(1) And God spoke all these words, saying, (2) I am the LORD your God, who brought you out of the land of Egypt, out of the house of bondage. (3) You shall have no other gods before me. (4) You shall not make for yourself a graven image, or any likeness of anything that is in heaven above, or that is in the earth beneath, or that is in the water under the earth; (5) you shall not bow down to them or serve them; for I the LORD your God am a jealous God, visiting the iniquity of the fathers upon the children to the third and the fourth generation of those who hate me, (6) but showing steadfast love to thousands of those who love me and keep my commandments’ (= ).

NIV: ‘(1) And God spoke all these words: (2) ‘I am the LORD your God, who brought you out of Egypt, out of the land of slavery. (3) You shall have no other gods before me. (4) You shall not make for yourself an idol in the form of anything in heaven above or on the earth beneath or in the waters below. (5) You shall not bow down to them or worship them; for I, the LORD your God, am a jealous God, punishing the children for the sin of the fathers to the third and fourth generation of those who hate me, (6) but showing love to a thousand generations of those who love me and keep my commandments’ (= ).

NASB: ‘(1) Then God spoke all these words, saying, (2) I am the LORD your God, who brought you out of the land of Egypt, out of the house of slavery. (3) You shall have no other gods before Me. (4) You shall not make for yourself an idol, or any likeness of what is in heaven above or on the earth beneath or in the water under the earth. (5 You shall not worship them or serve them; for I, the LORD your God, am a jealous God, visiting the iniquity of the fathers on the children, on the third and the fourth generations of those who hate Me, (6) but showing loving kindness to thousands, to those who love Me and keep My commandments’ (= ).

Ay 1-2: “(1) Lalu Allah mengucapkan segala firman ini: (2) ‘Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan”.

1) Ay 1: “Lalu Allah mengucapkan segala firman ini:”.

a) Ada 2 pandangan tentang ‘segala firman ini’:

Adam Clarke: “‘All these words.’ Houbigant supposes, and with great plausibility of reason, that the clause ’EET KAAL HADªBAARIYM HAA’EELEH, ‘all these words,’ belong to the latter part of (Exo. 19:25), which he thinks should be read thus: ‘And Moses went down unto the people, and spake unto them ALL THESE WORDS’ i. e., delivered the solemn charge relative to their not attempting to come up to that part of the mountain on which God manifested Himself in His glorious majesty, lest He should break forth upon them and consume them. ... When Moses therefore, had gone down and spoken all these words, and he and Aaron had re-ascended the mount, then the Divine Being, as Supreme Legislator, is majestically introduced thus: ‘And God spake, saying.’” (= ).

Jamieson, Fausset & Brown: “‘the words’ here refer to the Ten Commandments” (= ).

b) Allah menyampaikan 10 hukum Tuhan ini langsung atau melalui malaikat?

Jamieson, Fausset & Brown: “when we are told that ‘God spake all the words’ that follow, the selection of a term so strictly confined to the expression of audible sound, was made to intimate that God uttered them. ... The Speaker was the Divine Being ... There is no intimation or hint given in the Pentateuch that any other spoke to them. It is stated, indeed (Deut. 32:2; Ps. 68:17), that the Lord on His descent upon Sinai was attended by myriads of holy ones - i. e., angels, who, as these passages seem to indicate, were present as witnesses at the promulgation of the law. But further revelations are made. In the New Testament, Stephen says, that ‘the law was given EIS DIATAGAS ANGELOON, by the disposition of angels.’ Paul declares that it was DIATAGEIS DI' ANGELOON, ‘ordained by angels;’ while, Heb. 2:2 has: HO DI' ANGELOON LALEETHEIS LOGOS, ‘the word spoken by angels,’ appears to define precisely the office they performed on this occasion, which the vague expression DIATASSOO left undetermined. These passages, in their bearing upon the Mosaic narrative, have been variously interpreted. ... the generality of commentators agree in educing from the apostolic declarations the fact of angelic ministration at the giving of the law; but they are divided in opinion as to the actual service which the angels rendered. Some, as Kurtz, suppose that their agency was enlisted in raising the terrific phenomena which ushered in the impressive scene; in other words, the ministerial arrangement of things connected with the promulgation was executed by angels; and Henderson, who supports this hypothesis, thus expounds it: ‘God distinctly and audibly delivered His law on the mountain, and each commandment, as it was pronounced, was repeated in loud and thrilling tones by the vast company of angels by whom He was surrounded, as long afterward at his birth in Bethlehem (Luke 2:13-14).’ Others, as Keil, Hengstenberg, etc., maintain that the angels DIATAGAI, ‘troops or hosts of angels’ were present merely as attendants to impart pomp and solemnity to the descent of the Divine Majesty; and they consider that the point of contrast intended by the apostle in Heb. 2:2, was between the glory of ‘the angel of the Lord’ when He came to Sinai attended by a vast retinue of inferior angels, and the same Being when He appeared alone in His own glory as the only begotten Son of God” (= ).

Barnes’ Notes: “The account of the delivery of them in Exo. 19 and in Exo. 20:18-21 is in accordance with their importance as the recognized basis of the covenant between Yahweh and His ancient people (Exo. 34:27-28; Deut. 4:13; 1 Kings 8:21, etc.), and as the divine testimony against the sinful tendencies in man for all ages. While it is here said that ‘God spake all these words,’ and in Deut. 5:4, that He ‘talked face to face,’ in the New Testament the giving of the law is spoken of as having been through the ministration of Angels (Acts 7:53; Gal. 3:19; Heb. 2:2). We can reconcile these contrasts of language by keeping in mind that God is a Spirit, and that He is essentially present in the agents who are performing His will” (= ).

Keil & Delitzsch: “God spake these words directly to the people, and not ‘through the medium of His finite spirits,’ as v. Hofmann, Kurtz, and others suppose. There is not a word in the Old Testament about any such mediation. Not only was it Elohim, according to the chapter before us, who spake these words to the people, and called Himself Jehovah, who had brought Israel out of Egypt (v. 2), but according to Deut. 5:4, Jehovah spake these words to Israel ‘face to face, in the mount, out of the midst of the fire.’” (= ).

Keil & Delitzsch: “Hence, according to Buxtorf (Dissert. de Decalogo in genere, 1642), the Jewish commentators almost unanimously affirm that God Himself spake the words of the decalogue, and that words were formed in the air by the power of God, and not by the intervention and ministry of angels. (Note: This also applies to the Targums. Onkelos and Jonathan have YªYAA UWMALEEL in v. 1, and the Jerusalem Targum DAYªYAA MEEYMªRAA’ MALEEYL. But in the popular Jewish Midrash, the statement in Deut. 33:2 (cf. Ps. 68:17), that Jehovah came down upon Sinai ‘out of myriads of His holiness,’ i. e., attended by myriads of holy angels, seems to have given rise to the notion that God spake through angels. Thus Josephus represents King Herod as saying to the people, ‘For ourselves, we have learned from God the most excellent of our doctrines, and the most holy part of our law through angels’ (Ant. 15, 5, 3, Whiston’s translation). And even from the New Testament this cannot be proved to be a doctrine of the Scriptures. For when Stephen says to the Jews, in Acts 7:53, ‘Ye have received the law’ EIS DIATAGA’S AGGE’LOON (Eng. Ver. ‘by the disposition of angels’), and Paul speaks of the law in Gal. 3:19 as DIATAGEI’S DI’ AGGE’LOON (‘ordained by angels’), these expressions leave it quite uncertain in what the DIATA’SSEIN of the angels consisted, or what part they took in connection with the giving of the law. (Note: That Stephen cannot have meant to say that God spoke through a number of finite angels, is evident from the fact, that in v. 38 he had spoken just before of the Angel (in the singular) who spoke to Moses upon Mount Sinai, and had described him in vv. 35 and 30 as the Angel who appeared to Moses in the bush, i. e., as no other than the Angel of Jehovah who was identical with Jehovah. ‘The Angel of the Lord occupies the same place in v. 38 as Jehovah in Ex. 19. The angels in v. 53 and Gal. 3:19 are taken from Deut. 33. And there the angels do not come in the place of the Lord, but the Lord comes attended by them’ (Hengstenberg). So again, in Heb. 2:2, where the law, ‘the word spoken by angels’ DI’ AGGE’LOON, is placed in contrast with the ‘salvation which at the first began to be spoken by the Lord’ DIA’ TOU’ KURI’OU, the antithesis is of so indefinite a nature that it is impossible to draw the conclusion with any certainty, that the writer of this epistle supposed the speaking of God at the promulgation of the decalogue to have been effected through the medium of a number of finite spirits, especially when we consider that in the Epistle to the Hebrews speaking is the term applied to the divine revelation generally (see Exo 1:1). As his object was not to describe with precision the manner in which God spake to the Israelites from Sinai, but only to show the superiority of the Gospel, as the revelation of salvation, to the revelation of the law; he was at liberty to select the indefinite expression DI’ AGGE’LOON, and leaven it to the readers of his epistle to interpret it more fully for themselves from the Old Testament. According to the Old Testament, however, the law was given through the medium of angels, only so far as God appeared to Moses, as He had done to the patriarchs, in the form of the ‘Angel of the Lord,’ and Jehovah came down upon Sinai, according to Deut. 33:2, surrounded by myriads of holy angels as His escort. ... The notion that God spake through the medium of ‘His finite spirits’ can only be sustained in one of two ways: either by reducing the angels to personifications of natural phenomena, such as thunder, lightning, and the sound of a trumpet, a process against which the writer of the Epistle to the Hebrews enters his protest in Exo 12:19, where he expressly distinguishes the ‘voice of words’ from these phenomena of nature; or else by affirming, with v. Hofmann, that God, the supernatural, cannot be conceived of without a plurality of spirits collected under Him, or apart from His active operation in the world of bodies, in distinction from which these spirits are comprehended with Him and under Him, so that even the ordinary and regular phenomena of nature would have to be regarded as the workings of angels; in which case the existence of angels as created spirits would be called in question, and they would be reduced to mere personifications of divine powers” (= ).

2) Ay 2: “‘Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan”.

Adam Clarke: “‘Brought thee out of the land of Egypt, out of the house of bondage.’ And by this very thing have proved myself to be superior to all gods, unlimited in power, and most gracious as well as fearful in operation. This is the preface or introduction, but should not be separated from the commandment” (= ).

Tetapi Calvin mengatakan bahwa Allah menyebutkan bahwa Ia yang membebaskan Israel dari Mesir supaya bangsa Israel tidak mentaati hukum Taurat dengan rasa takut, tetapi dengan kasih / sukarela.

Calvin menambahkan: “This does not indeed literally apply to us; but He has bound us to Himself with a holier tie, by the hand of His only-begotten Son” (= ) - hal 340.

Bdk. 1Kor 6:20 - “Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!”.

Matthew Henry: “he had brought them out of the land of Egypt; therefore they were bound in gratitude to obey him, because he had done them so great a kindness, had brought them out of a grievous slavery into a glorious liberty. ... They were now enjoying the blessed fruits of their deliverance, and in expectation of a speedy settlement in Canaan; and could they think any thing too much to do for him that had done so much for them? Nay, by redeeming them, he acquired a further right to rule them; they owed their service to him to whom they owed their freedom, and whose they were by purchase. And thus Christ, having rescued us out of the bondage of sin, is entitled to the best service we can do him, (Lu. 1:74). Having loosed our bonds, he has bound us to obey him” (= ).

Wycliffe Bible Commentary: “The Law was not given as a means of salvation. It was given to a people already saved (Exo 19:4; 20:2) in order to instruct them in the will of the Lord so that they might fulfill God’s purpose for them as ‘a kingdom of priests and a holy nation’ (19:6). The revelation was given ‘not to give but to guide life’ (P. Fairbairn, The Revelation of Law in Scripture', p. 274). ... It is important to notice that the basis of God’s commandments and the ground of the people’s obligation was the fact that Jehovah was their Lord and God who had redeemed them. These injunctions are given to a saved people to teach them how to walk in God's way, but we observe that ‘nearly all the commandments are couched in the negative form of prohibition, because they presuppose the existence of sin and evil desires in the human heart’ (KD)” (= ).

Tetapi bagaimana dengan 1Tim 1:8-11 - “(8) Kita tahu bahwa hukum Taurat itu baik kalau tepat digunakan, (9) yakni dengan keinsafan bahwa hukum Taurat itu bukanlah bagi orang yang benar, melainkan bagi orang durhaka dan orang lalim, bagi orang fasik dan orang berdosa, bagi orang duniawi dan yang tak beragama, bagi pembunuh bapa dan pembunuh ibu, bagi pembunuh pada umumnya, (10) bagi orang cabul dan pemburit, bagi penculik, bagi pendusta, bagi orang makan sumpah dan seterusnya segala sesuatu yang bertentangan dengan ajaran sehat (11) yang berdasarkan Injil dari Allah yang mulia dan maha bahagia, seperti yang telah dipercayakan kepadaku”.

Matthew Henry: “The use of the law (v. 8): The law is good, if a man use it lawfully. The Jews used it unlawfully, as an engine to divide the church, a cover to the malicious opposition they made to the gospel of Christ; they set it up for justification, and so used it unlawfully. We must not therefore think to set it aside, but use it lawfully, for the restraint of sin. The abuse which some have made of the law does not take away the use of it; but, when a divine appointment has been abused, call it back to its right use and take away the abuses, for the law is still very useful as a rule of life; though we are not under it as under a covenant of works, yet it is good to teach us what is sin and what is duty. It is not made for a righteous man, that is, it is not made for those who observe it; for, if we could keep the law, righteousness would be by the law (Gal. 3:21): but it is made for wicked persons, to restrain them, to check them, and to put a stop to vice and profaneness. It is the grace of God that changes men’s hearts; but the terrors of the law may be of use to tie their hands and restrain their tongues. A righteous man does not want those restraints which are necessary for the wicked; or at least the law is not made primarily and principally for the righteous, but for sinners of all sorts, whether in a greater or less measure, v. 9, 10. In this black roll of sinners, he particularly mentions breaches of the second table, duties which we owe to our neighbour; against the fifth and sixth commandments, murderers of fathers and mothers, and manslayers; against the seventh, whoremongers, and those that defile themselves with mankind; against the eighth, men-stealers; against the ninth, liars and perjured persons; and then he closes his account with this, and if there be any other thing that is contrary to sound doctrine. Some understand this as an institution of a power in the civil magistrate to make laws against such notorious sinners as are specified, and to see those laws put in execution” (= ).

Gal 3:21 - “Kalau demikian, bertentangankah hukum Taurat dengan janji-janji Allah? Sekali-kali tidak. Sebab andaikata hukum Taurat diberikan sebagai sesuatu yang dapat menghidupkan, maka memang kebenaran berasal dari hukum Taurat”.

Adam Clarke: “‘If a man use it lawfully.’ That is, interpret it according to its own spirit and design, and use it for the purpose for which God has given it; for the ceremonial law was a schoolmaster to lead us unto Christ, and Christ is the end of that law for justification to everyone that believes. Now those who did not use the law in reference to these ends, did not use it lawfully-- they did not construe it according to its original design and meaning” (= ).

Jamieson, Fausset & Brown: “‘Use it lawfully.’ - in its lawful place in the Gospel economy; namely, not as a means of a ‘righteous man’ attaining higher perfection than by the Gospel alone (Titus 1:14) (the perverted use to which the false teachers put it, appending fabulous interpretations of it to the Gospel), but to awaken the sense of sin in the ungodly (1 Tim. 1:9-10: cf. Rom. 7:7-12; Gal. 3:21).” (= ).

Ro 7:7 - “Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah hukum Taurat itu dosa? Sekali-kali tidak! Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: ‘Jangan mengingini!’”.

Wycliffe Bible Commentary: “Paul discusses this function of the Law in detail in Rom 7:7-25: It brings the knowledge of sin and makes sin exceedingly sinful, all with the end of bringing a man to Christ” (= ).

Wycliffe Bible Commentary: “‘The law is not made for a righteous man.’ ‘The Law does not condemn a righteous man.’ The expression is a relative negative, to be taken in context. It does not mean that the Law has no relation to the righteous; for him, it is a righteous rule which he joyfully obeys in the Spirit” (= ).

Jadi, saya berpendapat bahwa hukum Taurat itu berguna untuk:

a) Orang yang belum percaya, supaya mereka sadar akan dosanya, dan lalu datang kepada Kristus.

Gal 3:24 - “Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman”.

RSV: ‘So that the law was our custodian until Christ came, that we might be justified by faith’ (= ).

KJV: ‘Wherefore the law was our schoolmaster to bring us unto Christ, that we might be justified by faith’ (= ).

NIV: ‘So the law was put in charge to lead us to Christ that we might be justified by faith’ (= ).

NASB: ‘Therefore the Law has become our tutor to lead us to Christ, that we may be justified by faith’ (= ).

b) Orang-orang yang sudah percaya untuk ditaati.

Hati-hati dengan Ro 6:14-15 - “(14) Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia. (15) Jadi bagaimana? Apakah kita akan berbuat dosa, karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia? Sekali-kali tidak!”.

Kata-kata ‘kamu tidak berada di bawah hukum Taurat’ tidak berarti bahwa setelah percaya Kristus kita tidak lagi perlu mentaati hukum Taurat / 10 hukum Tuhan. Seluruh bagian yang saya garis bawahi itu berarti bahwa kita tidak diselamatkan oleh ketaatan kepada hukum Taurat tetapi kita diselamatkan karena kasih karunia.
Ay 3: “Jangan ada padamu allah lain di hadapanKu”.

1) Persoalan terjemahan.

a) Yang benar ‘allah lain’ atau ‘illah lain’?

Ada orang-orang kristen (yang berasal dari Islam) yang mengatakan bahwa dalam bahasa Arab, kata ‘Allah’ selalu menunjuk kepada Allah yang benar, dan karena itu kata-kata ‘allah lain’ harus diganti dengan ‘ilah lain’. Terhadap argumentasi ini saya menjawab bahwa Alkitab kristen tidak ditulis dalam bahasa Arab, tetapi dalam bahasa Ibrani dan Yunani, dan karena itu kita tidak boleh menafsirkannya berdasarkan bahasa Arab. Sedangkan dalam bahasa Ibrani maupun Yunani tidak dibedakan kata yang digunakan untuk Allah yang benar dan allah yang palsu. Dalam ay 3 ini digunakan kata bahasa Ibrani ELOHIM, sama dengan kata yang digunakan untuk menunjuk kepada Allah yang benar. Jadi, menurut saya terjemahan ‘allah lain’ harus dipertahankan.

b) Ada terjemahan yang lain untuk ayat ini.

Calvin: “some construe the word Mynp, PANIM, ‘anger,’ as if it is said, ‘Thou shalt not make to thyself other gods to provoke my anger;’ and I admit that the Hebrew word is often used in this sense” (= ) - hal 418.

Editor dari Calvin’s Commentary: “Mynp, signifying properly the face or countenance, is sometimes used by metonymy for those passions which shew themselves in the countenance” (= ) - hal 418 (footnote).

Tetapi Calvin sendiri tetap lebih setuju dengan penterjemahan yang umum.

c) ‘strange gods’ (= allah-allah asing / aneh).

Adam Clarke: “‘Thou shalt have no other gods before me.’ ªLOHIYM 'ªCHEERIYM, ‘no strange gods’ - none that thou art not acquainted with, none who has not given thee such proofs of his power and godhead as I have done in delivering thee from the Egyptians, dividing the Red Sea, bringing water out of the rock, quails into the desert, manna from heaven to feed thee, and the pillar of cloud to direct, enlighten, and shield thee. By these miracles God had rendered Himself familiar to them, they were intimately acquainted with the operation of His hands” (= ).

2) Tujuan dari hukum pertama ini.

Matthew Henry: “The first commandment concerns the object of our worship, Jehovah, and him only (v. 3): Thou shalt have no other gods before me. The Egyptians, and other neighbouring nations, had many gods, the creatures of their own fancy, strange gods, new gods; this law was prefixed because of that transgression, and, Jehovah being the God of Israel, they must entirely cleave to him, and not be for any other, either of their own invention or borrowed from their neighbours” (= ).

Calvin: “In this commandment God enjoins that He alone be worshipped, and requires a worship free from all superstition” (= Dalam hukum ini Allah memerintahkan bahwa Ia saja yang disembah, dan menghendaki suatu penyembahan yang bebas dari semua takhyul) - hal 417-418.

Bdk. 1Tim 4:7 - “Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah”.

Tetapi Kitab Suci bahasa Inggris tidak menterjemahkan sebagai ‘takhayul’.

KJV: ‘But refuse profane and old wives’ fables, and exercise thyself [rather] unto godliness’ (= ).

RSV: ‘Have nothing to do with godless and silly myths. Train yourself in godliness’ (= ).

NIV: ‘Have nothing to do with godless myths and old wives' tales; rather, train yourself to be godly’ (= ).

NASB: ‘But have nothing to do with worldly fables fit only for old women. On the other hand, discipline yourself for the purpose of godliness’ (= ).

Calvin: “if God have not alone the pre-eminence, His majesty is so far obscured” (= jika Allah tidak sendirian mempunyai keutamaan, keagunganNya dikaburkan) - hal 418.

Wycliffe Bible Commentary: “The First Commandment. This is more than just a proclamation of monotheism. It prohibits worshiping or honoring anything before God, in thought or word or deed, ‘that in all things he might have the preeminence’ (Col 1:18)” (= ).

Kol 1:18 - “Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu”.

KJV: ‘And he is the head of the body, the church: who is the beginning, the firstborn from the dead; that in all things he might have the preeminence’ (= ).

Matthew Henry: “The sin against this commandment which we are most in danger of is giving the glory and honour to any creature which are due to God only. Pride makes a god of self, covetousness makes a god of money, sensuality makes a god of the belly; whatever is esteemed or loved, feared or served, delighted in or depended on, more than God, that (whatever it is) we do in effect make a god of” [= Dosa terhadap hukum ini yang paling membahayakan kita adalah memberikan kemuliaan dan hormat kepada makhluk ciptaan manapun, yang seharusnya adalah hak Allah saja. Kesombongan membuat dirinya sendiri suatu allah, ketamakan membuat uang sebagai allah, hawa nafsu membuat perut menjadi suatu allah; apapun yang dinilai atau dicintai, ditakuti atau dilayani, disenangi atau dibuat bergantung, lebih dari Allah, sebetulnya hal itu (apapun adanya itu) kita jadikan suatu allah].

Adam Clarke: “THE FIRST COMMANDMENT. Against mental or theoretical idolatry. ... This commandment prohibits every species of mental idolatry, and all inordinate attachment to earthly and sensible things. Since God is the fountain of happiness, and no intelligent creature can be happy but through Him, whoever seeks happiness in the creature is necessarily an idolater, since he puts the creature in the place of the Creator, expecting that from the gratification of his passions, in the use or abuse of earthly things which is to be found in God alone. The very first commandment of the whole series is divinely calculated to prevent man’s misery and promote his happiness, by taking him away from all false dependence and leading him to God Himself, the fountain of all good” (= ).

Calvin: “these words comprehend the inward worship of God, since this commandment differs from the next, whereby external idolatry will be seen to be condemned” (= kata-kata ini meliputi penyembahan di dalam terhadap Allah, karena hukum ini berbeda dengan hukum selanjutnya, dengan mana penyembahan berhala lahiriah / di luar terlihat dikecam) - hal 419.

Yeh 20:39a - “Hai kamu, kaum Israel, beginilah firman Tuhan ALLAH, biarlah masing-masing pergi beribadah kepada berhala-berhalanya”.

Calvin: “He not only repudiates all mixed worship, but testifies that He with rather be accounted nothing than not be worshipped undividedly” (= Ia bukan hanya menolak semua penyembahan campuran, tetapi memberi kesaksian bahwa Ia lebih baik dianggap tidak ada dari pada disembah dengan tak sepenuhnya / dengan terbagi-bagi) - hal 420.

Catatan: kata-kata yang saya garis-bawahi itu maksudnya kita bukan hanya menyembah Allah saja, tetapi Allah dan berhala / hal lain.

Bandingkan dengan:

• 1Raja 18:21 - “Lalu Elia mendekati seluruh rakyat itu dan berkata: ‘Berapa lama lagi kamu berlaku timpang dan bercabang hati? Kalau TUHAN itu Allah, ikutilah Dia, dan kalau Baal, ikutilah dia.’ Tetapi rakyat itu tidak menjawabnya sepatah katapun”.

• Yos 24:14-15 - “(14) Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepadaNya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN. (15) Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!’”.

Keil & Delitzsch: “The sentence ... not only prohibits polytheism and idolatry, the worship of idols in thought, word, and deed (cf. Deut. 8:11,17,19), but also commands the fear, love, and worship of God the Lord (cf. Deut. 6:5,13,17; 10:12,20)” (= ).

3) Hukum pertama ini bertentangan dengan ajaran Arianisme maupun Saksi Yehuwa, yang menganggap Yesus sebagai allah kecil, yang terpisah dan berbeda sama sekali dengan Bapa. Kalau Yesus memang seperti itu, maka orang Kristen memang mempunyai allah lain. Dalam ajaran Kristen yang benar, sekalipun dipercayai bahwa Yesus memang adalah Allah, tetapi Ia mempunyai satu hakekat dengan Bapa, atau Ia satu dengan Bapa (Yoh 10:30), sehingga Ia bukan Allah lain.

Calvin: “The orthodox Fathers aptly used this passage against the Arians; because, since Christ is everywhere called God, He is undoubtedly the same Jehovah who declares Himself to be the One God, and this is asserted with the same force respecting the Holy Spirit” (= Bapa-bapa Gereja yang orthodox sering menggunakan text ini terhadap pengikut Arianisme; karena, karena Kristus dimana-mana disebut Allah, Ia tak diragukan Ia adalah Yehovah yang sama yang menyatakan diriNya sendiri sebagai satu-satunya Allah, dan ini ditegaskan dengan kekuatan yang sama berkenaan dengan Roh Kudus) - hal 420.

Catatan: pada jaman sekarang, dengan adanya Saksi Yehuwa, yang merupakan reinkarnasi dari Arianisme, maka kita bisa menggunakan ayat ini dengan cara yang sama terhadap mereka, seperti Bapa-bapa dahulu menggunakannya terhadap Arianisme.

4) Contoh pelanggaran terhadap hukum ini:

• Menyembah banyak allah / dewa, atau melakukan syncretisme / menggabungkan 2 agama atau lebih (1Raja 18:21).

Misalnya: meskipun sudah menjadi orang kristen, tetapi masih pergi ke G. Kawi, kelenteng, dsb. Atau, sudah menjadi orang kristen tetapi masih ikut kebatinan, menggunakan magic, dsb.

Ada orang kristen / hamba Tuhan yang begitu takut dengan tuduhan melakukan pengkristenan / kristenisasi, sehingga pada waktu memberitakan Injil, mereka berkata: ‘Aku tidak minta kamu pindah agama. Aku hanya minta kamu percaya kepada Kristus’. Kata-kata bodoh ini sama artinya dengan menyuruh seseorang menjadi seorang syncretist, yang jelas merupakan pelanggaran terhadap hukum pertama ini!

• Berdoa kepada roh-roh nenek moyang / orang tua.

• Berdoa kepada Maria / orang suci / malaikat.

• Sembahyang di kuburan (Cing Bing), memberi sesajen, dsb.

• Menyembah manusia, baik pai-kwie maupun sungkem (bdk. Mat 4:10 - “Maka berkatalah Yesus kepadanya: ‘Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!’”).

• Menyimpan / mempercayai jimat, benda-benda G. Kawi / kelenteng seper¬ti: Hu, Pat-kwa, kantong merah G. Kawi, dll.

5) Konsekwensi dari hukum 1 ini.

Konsekwensi dari hukum 1 ini adalah bahwa Allah harus diutamakan / dikasihi lebih daripada apapun / siapapun juga, misalnya:

• diri sendiri (Luk 14:26b).

Kalau saudara royal dalam mengeluarkan uang untuk diri sendiri (untuk makanan, pakaian, bepergian, dsb), tetapi pelit / kikir dalam memberi persembahan kepada Tuhan, maka saudara sudah mengutamakan diri sendiri lebih dari pada Tuhan.

• keluarga, seperti suami, istri, orang tua, anak, cucu, dsb (Luk 14:26a).

Setiap orang kristen mempunyai tanggung jawab terhadap keluarga, dan ini tetap harus dilakukan (1Tim 5:8), tetapi ia tidak boleh melakukan semua itu begitu rupa sehingga menyingkirkan Tuhan.

• pekerjaan / uang (bdk. Mat 6:24).

Orang kristen memang wajib untuk bekerja sehingga bisa mencukupi kebutuhannya sendiri dan keluarganya (2Tes 3:10-12). Karena itu jangan menggunakan ayat seperti Mat 6:25-34 untuk menjadi orang malas yang tidak mau bekerja. Tetapi bagaimanapun juga kita tidak boleh mementingkan pekerjaan lebih dari Tuhan.

Kalau suatu pekerjaan harus dilakukan dengan melakukan dosa, baik itu dosa aktif seperti dusta atau bekerja pada hari Minggu, maupun itu dosa pasif seperti tidak bisa berbakti, tidak bisa belajar Firman Tuhan, tidak bisa melayani dsb, dan saudara tetap melakukan pekerjaan itu, maka jelas bahwa pekerjaan itu sudah menjadi ‘allah lain’ bagi saudara!

D. L. Moody: “If a man will sell his principles for gold, isn’t he making it a god? If he trusts in his wealth to keep him from want and to supply his needs, are not riches his god?” (= Jika seseorang mau menjual prinsip-prinsipnya demi emas, bukankah ia sedang membuatnya menjadi suatu allah? Jika ia percaya pada kekayaannya untuk menjaganya dari kekurangan dan menyuplai kebutuhan-kebutuhannya, bukankah kekayaan adalah allahnya?) - ‘D. L. Moody On The Ten Commaandments’, hal 23.

• boss / rekan bisnis.

• study / pelajaran sekolah.

Tentu saja pelajar / mahasiswa kristen juga harus belajar dengan baik, tetapi ia tidak boleh terus belajar sehingga mengabaikan kebaktian, saat teduh dsb.

• pacar / teman.

• hobby, seperti nonton bioskop, TV, olah raga, dsb.

• undangan pernikahan / HUT.

o Kalau saudara membuang kebaktian, karena adanya undangan pernikahan / HUT, maka itu berarti saudara sudah mengutamakan undangan pernikahan lebih dari Tuhan.

o Juga kalau misalnya hujan lebat saudara tidak berbakti, tetapi dengan curah hujan yang sama, saudara tetap bisa pergi untuk memenuhi undangan pernikahan, maka itu jelas menunjukkan bahwa saudara mengutamakan undangan pernikahan itu lebih dari pada Tuhan.

• handphone (= telpon genggam).

Harus diakui bahwa handphone memang merupakan sesuatu yang sangat menolong kita. Tetapi bagaimanapun handphone tidak boleh kita letakkan di atas Tuhan, misalnya dengan cara tetap menyalakan handphone pada waktu berbakti, ikut Pemahaman Alkitab, bersaat teduh / berdoa, dsb, dan begitu handphone berbunyi, kita langsung meninggalkan Tuhan dan menerima handphone tersebut.

Bdk. Mal 1:8 - “Apabila kamu membawa seekor binatang buta untuk dipersembahkan, tidakkah itu jahat? Apabila kamu membawa binatang yang timpang dan sakit, tidakkah itu jahat? Cobalah menyampaikannya kepada bupatimu, apakah ia berkenan kepadamu, apalagi menyambut engkau dengan baik? firman TUHAN semesta alam”.

Catatan: Kata ‘bupati’ seharusnya adalah ‘gubernur’.

Dalam Mal 1:8 ini Tuhan membandingkan sikap orang-orang Israel kepada Tuhan dengan sikap mereka kepada gubernur. Mereka tidak berani mempersembahkan binatang buta kepada seorang gubernur, tetapi anehnya, mereka berani melakukannya kepada Tuhan!

Dalam penggunaan handphone juga sama. Bayangkan saudara sedang berbicara dengan presiden, atau gubernur, atau walikota. Tahu-tahu handphone saudara berbunyi. Beranikah saudara meninggalkan presiden / gubernur / walikota itu untuk menerima handphone saudara? Saya yakin saudara tidak akan berani! Tetapi mengapa saudara berani melakukannya kalau saudara sedang berbakti / berbicara kepada Tuhan? Saudara harus menghormati, mementingkan dan mengutamakan Tuhan di atas handphone, atau urusan apapun yang diberikan oleh handphone tersebut, dan karena itu matikanlah (atau setidaknya silent-kan tanpa getaran) handphone pada waktu melakukan segala sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan! Ini juga berlaku untuk telpon biasa dan pager / radio panggil.

• Gereja / aliran.

Kalau seseorang mendengar Firman Tuhan yang menyerang ajaran gerejanya / alirannya, dan ia memang tidak bisa menjawab serangan itu, karena memang serangan itu benar, tetapi ia tetap mengukuhi pandangan gereja / alirannya yang tidak bisa dipertahankan itu, maka ia sudah menempatkan gereja / alirannya di atas Tuhan dan firmanNya, dan dengan demikian menjadikan gereja / alirannya sebagai ‘allah lain’!

• pelayanan (bdk. Luk 10:38-42).

Sekalipun kita melakukan pelayanan itu untuk Allah, tetapi kalau kita begitu sibuk dengan pelayanan sehingga tidak ada waktu untuk bersekutu dengan Tuhan (saat teduh / doa), dan tidak ada waktu untuk belajar Firman Tuhan, maka pelayanan itu menjadi allah lain bagi kita.

Charles Haddon Spurgeon: “Anything becomes an idol when it keeps us away from God” (= Segala sesuatu menjadi berhala kalau hal itu menjauhkan kita dari Allah).

D. L. Moody: “Whatever you make most of is your god. Whatever you love more than God is your idol” (=) - ‘D. L. Moody On The Ten Commandments’, hal 23.

D. L. Moody: “God will not accept a divided heart. He must be absolute monarch. There is not room in your heart for two thrones. ... There is not room for any other throne in the heart if Christ is there. If worldliness should come in, godliness would go out” (= Allah tidak menerima hati yang terbagi. Ia harus menjadi raja yang mutlak. Tidak ada ruangan dalam hatimu untuk dua takhta. ... Tidak ada ruangan untuk takhta yang lain dalam hati jika Kristus ada di sana. Jika keduniawian masuk, kesalehan akan keluar) - ‘D. L. Moody On The Ten Commandments’, hal 27.

Augustine: “Christ is not valued at all unless he be valued above all” (= Kristus tidak dihargai sama sekali kecuali Ia dihargai di atas semua) - ‘The Encyclopedia of Religiouus Quotations’, hal 78.

Saya pernah membaca cerita tentang seorang pendeta di Inggris yang memberitahu pelayannya bahwa kalau ia sedang berdoa ia tidak mau diganggu oleh siapapun. Tetapi suatu hari ketika pendeta itu sedang berdoa, ada tamu datang, dan ketika si pelayan itu melihat tamu itu, ia lalu ‘membangunkan’ si pendeta dari doanya. Si pendeta memarahi pelayannya dengan berkata: ‘Bukankah sudah kuberitahu bahwa aku tidak mau diganggu kalau sedang berdoa?’. Tetapi pelayannya menjawab: ‘Tuan, tamu yang datang adalah anaknya raja’. Pendeta itu menjawab: ‘Saya tidak peduli dia anak raja. Beritahu dia untuk menunggu, karena saya sedang berbicara dengan Rajanya sendiri’.

Ini adalah contoh dimana seseorang betul-betul mengutamakan Tuhan!

Renungkan: berapa kali saudara melanggar hukum pertama ini? Seandainya dalam Kitab Suci hanya ada satu hukum ini saja, maka dosa kita sudah bukan main banyaknya!

HUKUM KEDUA


Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHANmu.


Ay 4-6: “(4) Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. (5) Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, (6) tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintahKu”.

1) Ay 4: “Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi”.

a) ‘Jangan membuat’.

Matthew Henry: “The Jews (at least after the captivity) thought themselves forbidden by this commandment to make any image or picture whatsoever. ... It is certain that it forbids making any image of God (for to whom can we liken him? Isa. 40:18,15), or the image of any creature for a religious use. ... It also forbids us to make images of God in our fancies, as if he were a man as we are. Our religious worship must be governed by the power of faith, not by the power of imagination. They must not make such images or pictures as the heathen worshipped, lest they also should be tempted to worship them. Those who would be kept from sin must keep themselves from the occasions of it” (= ).

Catatan: Isa 40:15 seharusnya adalah Isa 40:25

Yes 40:18,25 - “(18) Jadi dengan siapa hendak kamu samakan Allah, dan apa yang dapat kamu anggap serupa dengan Dia? ... (25) Dengan siapa hendak kamu samakan Aku, seakan-akan Aku seperti dia? firman Yang Mahakudus”.

Keil & Delitzsch: “It is not only evident from the context that the allusion is not to the making of images generally, but to the construction of figures of God as objects of religious reverence or worship, but this is expressly stated in v. 5; so that even Calvin observes, that ‘there is no necessity to refute what some have foolishly imagined, that sculpture and painting of every kind are condemned here.’ With the same aptness he has just before observed, that ‘although Moses only speaks of idols, there is no doubt that by implication he condemns all the forms of false worship, which men have invented for themselves.’” (= ).

Calvin: “There is no need of refuting the foolish fancy of some, that all sculptures and pictures are here condemned by Moses, for he had no other object than to rescue God’s glory from all the imagination which tend to corrupt it” (= ) - hal 108.

Jamieson, Fausset & Brown: “‘Thou shalt not bow.’ - i. e., ‘make in order to bow.’ Under the auspices of Moses himself, figures of cherubim, brazen serpents, oxen, and many other things were made and never condemned. The mere making of them was no sin, it was the making with the intent to give idolatrous worship” (= ).

D. L. Moody: “A man must be greater than anything he is able to make or manufacture. What folly then to think of worshipping such things!” (= Seseorang pasdti lebih besar dari apapun yang mampu ia buat atau hasilkan. Jadi alangkah tololnya untuk berpikir tentang penyembahan terhadap hal-hal seperti itu!) - ‘D. L. Moody On The Ten Commandments’, hal 33.

b) ‘patung yang menyerupai apapun’.

Bdk. Ul 4:15-19 - “(15) Hati-hatilah sekali - sebab kamu tidak melihat sesuatu rupa pada hari TUHAN berfirman kepadamu di Horeb dari tengah-tengah api - (16) supaya jangan kamu berlaku busuk dengan membuat bagimu patung yang menyerupai berhala apapun: (17) yang berbentuk laki-laki atau perempuan: yang berbentuk binatang yang di bumi, atau berbentuk burung bersayap yang terbang di udara, (18) atau berbentuk binatang yang merayap di muka bumi, atau berbentuk ikan yang ada di dalam air di bawah bumi; (19) dan juga supaya jangan engkau mengarahkan matamu ke langit, sehingga apabila engkau melihat matahari, bulan dan bintang, segenap tentara langit, engkau disesatkan untuk sujud menyembah dan beribadah kepada sekaliannya itu, yang justru diberikan TUHAN, Allahmu, kepada segala bangsa di seluruh kolong langit sebagai bagian mereka”.

Bandingkan juga dengan:

• Kel 34:17 - “Janganlah kaubuat bagimu allah tuangan”.

• Kel 20:23 - “Janganlah kamu membuat di sampingKu allah perak, juga allah emas janganlah kamu buat bagimu”.

• Im 26:1 - “‘Janganlah kamu membuat berhala bagimu, dan patung atau tugu berhala janganlah kamu dirikan bagimu; juga batu berukir janganlah kamu tempatkan di negerimu untuk sujud menyembah kepadanya, sebab Akulah TUHAN, Allahmu”.

Calvin: “There is no doubt but that he comprehends by synecdoche, all kinds of images, when he forbids the making of molten gods; because metal is no more abominated by God than wood, or stone, or any other material, out of which idols are usually made; but, inasmuch as the insane zeal of superstition is the more inflamed by the value of the material or the beauty of the workmanship, Moses especially condemned molten gods. ... idolaters indulge themselves more fully in their worship of very precious idols, by the external splendour of which all their senses are ravished” (= ) - hal 116.

Calvin: “it is wrong for men to seek the presence of God in any visible image, because He cannot be represented to our eyes” (= ) - hal 107.

c) ‘yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi’.

Jamieson, Fausset & Brown: “‘That is in heaven above.’ - namely, angels, the sun, moon, and stars, images of which were made, as seen on Assyrian sculptures, in the form of discs, crescents, rayed stars, etc., used in Zabaism or astrolatry, the oldest form of idolatry in the world; bright light in the image of Baal or Bel, and pale light in that of Astarte; - birds (Deut. 4:17-18), the hawk, eagle” (= ).

Jamieson, Fausset & Brown: “‘Or that is in the water under the earth.’ - crocodiles, Dagon” (= ).

Keil & Delitzsch: “By ‘that which is in heaven’ we are to understand the birds, not the angels, or at the most, according to Deut. 4:19, the stars as well; by ‘that which is in earth,’ the cattle, reptiles, and the larger or smaller animals; and by ‘that which is in the water,’ fishes and water animals. ‘Under the earth’ is appended to the ‘water,’ to express in a pictorial manner the idea of its being lower than the solid ground (cf. Deut. 4:18)” (= ).

2) Ay 5a: “Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya”.

KJV: ‘Thou shalt not bow down thyself to them, nor serve them’ (= ).

RSV: ‘you shall not bow down to them or serve them’ (= ).

NASB: ‘You shall not worship them or serve them’ (= ).

NIV: ‘You shall not bow down to them or worship them’ (= ).

Matthew Henry: “they must not bow down to them occasionally, that is, show any sign of respect or honour to them, much less serve them constantly, by sacrifice or incense, or any other act of religious worship. When they paid their devotion to the true God, they must not have any image before them, for the directing, exciting, or assisting of their devotion. Though the worship was designed to terminate in God, it would not please him if it came to him through an image” (= ).

Sikap yang seharusnya terhadap patung berhala.

Ul 7:25-26 - “(25) Patung-patung allah mereka haruslah kamu bakar habis; perak dan emas yang ada pada mereka janganlah kauingini dan kauambil bagi dirimu sendiri, supaya jangan engkau terjerat karenanya, sebab hal itu adalah kekejian bagi TUHAN, Allahmu. (26) Dan janganlah engkau membawa sesuatu kekejian masuk ke dalam rumahmu, sehingga engkaupun ditumpas seperti itu; haruslah engkau benar-benar merasa jijik dan keji terhadap hal itu, sebab semuanya itu dikhususkan untuk dimusnahkan.’”.

3) Tujuan dari hukum kedua.

Calvin: “In the First commandment, after He had taught who was the true God, He commanded that He alone should be worshipped; and now He defines what is His LEGITIMATE WORSHIP” (= ) - hal 106.

Calvin: “it would not be sufficient for us to be instructed to worship Him alone, unless we also knew the manner in which He would be worshipped” (= ) - hal 107.

Matthew Henry: “The second commandment concerns the ordinances of worship, or the way in which God will be worshipped, which it is fit that he himself should have the appointing of” (= ).

Matthew Henry: “we are here forbidden to worship even the true God by images, v. 4, 5” (= ).

Calvin: “God is insulted, not only when His worship is transferred to idols, but when we try to represent Him by any outward similitude” (=) - hal 107.

Calvin: “although Moses only speaks of idolatry, yet there is no doubt but that by synecdoche, as in all the rest of the Law, he condemns all fictitious services which men in their ingenuity have invented” (= ) - hal 107.

Adam Clarke: “This commandment also prohibits every species of external idolatry, since the first does all idolatry that may be called internal or mental. All false worship may be considered of this kind, together with all image worship, and all other superstitious rites and ceremonies” (= ).

Jangan anggap Allah mau menerima seadanya penyembahan yang dilakukan manusia menurut pemikiran dan khayalannya masing-masing.

Bdk. Yoh 4:23-24 - “(23) Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh DAN KEBENARAN; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. (24) Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembahNya dalam roh DAN KEBENARAN.’”.

Bandingkan juga dengan Kol 2:8,16-23 - “(8) Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus. ... (16) Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; (17) semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus. (18) Janganlah kamu biarkan kemenanganmu digagalkan oleh orang yang pura-pura merendahkan diri dan beribadah kepada malaikat, serta berkanjang pada penglihatan-penglihatan dan tanpa alasan membesar-besarkan diri oleh pikirannya yang duniawi, (19) sedang ia tidak berpegang teguh kepada Kepala, dari mana seluruh tubuh, yang ditunjang dan diikat menjadi satu oleh urat-urat dan sendi-sendi, menerima pertumbuhan ilahinya. (20) Apabila kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus dan bebas dari roh-roh dunia, mengapakah kamu menaklukkan dirimu pada rupa-rupa peraturan, seolah-olah kamu masih hidup di dunia: (21) jangan jamah ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini; (22) semuanya itu hanya mengenai barang yang binasa oleh pemakaian dan hanya menurut perintah-perintah dan ajaran-ajaran manusia. (23) Peraturan-peraturan ini, walaupun nampaknya penuh hikmat dengan ibadah buatan sendiri, seperti merendahkan diri, menyiksa diri, tidak ada gunanya selain untuk memuaskan hidup duniawi”.

Perhatikan penyembahan dan peraturan-peraturan dari ajaran sesat yang dibicarakan oleh Paulus dalam text di atas ini. Kelihatannya ada kerendahan hati, dan bahkan penuh hikmat, tetapi dikecam oleh Paulus, karena tidak sesuai dengan Kristus / Kitab Suci!

4) Apakah patung berhala ada roh jahatnya?

Hab 2:19 - “Celakalah orang yang berkata kepada sepotong kayu: ‘Terjagalah!’ dan kepada sebuah batu bisu: ‘Bangunlah!’ Masakan dia itu mengajar? Memang ia bersalutkan emas dan perak, tetapi roh tidak ada sama sekali di dalamnya”.

Kelihatannya ayat ini menunjukkan bahwa patung berhala tak ada setannya, tetapi saya kira bukan itu maksudnya. Maksudnya adalah bahwa patung itu mati, dikontraskan dengan Allah yang hidup.

Bdk. Yer 10:8-16 - “(8) Berhala itu semuanya bodoh dan dungu; petunjuk dewa itu sia-sia, karena ia hanya kayu belaka. - (9) Perak kepingan dibawa dari Tarsis, dan emas dari Ufas; berhala itu buatan tukang dan buatan tangan pandai emas. Pakaiannya dari kain ungu tua dan kain ungu muda, semuanya buatan orang-orang ahli. - (10) Tetapi TUHAN adalah Allah yang benar, Dialah Allah yang hidup dan Raja yang kekal. Bumi goncang karena murkaNya, dan bangsa-bangsa tidak tahan akan geramNya. (11) Beginilah harus kamu katakan kepada mereka: ‘Para allah yang tidak menjadikan langit dan bumi akan lenyap dari bumi dan dari kolong langit ini.’ (12) Tuhanlah yang menjadikan bumi dengan kekuatanNya, yang menegakkan dunia dengan kebijaksanaanNya, dan yang membentangkan langit dengan akal budiNya. (13) Apabila Ia memperdengarkan suaraNya, menderulah bunyi air di langit, Ia menaikkan kabut awan dari ujung bumi, Ia membuat kilat serta dengan hujan, dan mengeluarkan angin dari perbendaharaanNya. (14) Setiap manusia ternyata bodoh, tidak berpengetahuan, dan setiap pandai emas menjadi malu karena patung buatannya. Sebab patung tuangannya itu adalah tipu, tidak ada nyawa di dalamnya, (15) semuanya adalah kesia-siaan, pekerjaan yang menjadi buah ejekan, dan yang akan binasa pada waktu dihukum. (16) Tidaklah begitu Dia yang menjadi bagian Yakub, sebab Dialah yang membentuk segala-galanya, dan Israel adalah suku milikNya; namaNya ialah TUHAN semesta alam!”.

1Tes 1:9 - “Sebab mereka sendiri berceritera tentang kami, bagaimana kami kamu sambut dan bagaimana kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk melayani Allah yang hidup dan yang benar”.

Jadi, saya berpendapat bahwa Hab 2:19 itu bukan dasar untuk mengatakan bahwa patung berhala tak ada roh jahatnya. Saya berpendapat adalah memungkinkan bahwa setan memasuki suatu patung berhala, karena ia senang disembah (bdk. Mat 4:10). Juga jelas adalah mungkin bahwa ia yang mengabulkan doa-doa yang dinaikkan kepada / melalui patung itu.

5) ‘sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu’ (ay 5b).

Bdk. Kel 34:14 - > “Sebab janganlah engkau sujud menyembah kepada allah lain, karena TUHAN, yang namaNya Cemburuan, adalah Allah yang cemburu”.

Kecemburuan Allah ini merupakan alasan mengapa penyembahan berhala dilarang. Kecemburuan Allah ini kelihatannya bukan hanya merupakan alasan dari hukum kedua, tetapi juga dari hukum pertama.

Bdk. Ul 6:14-15 - “(14) Janganlah kamu mengikuti allah lain, dari antara allah bangsa-bangsa sekelilingmu, (15) sebab TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu di tengah-tengahmu, supaya jangan bangkit murka TUHAN, Allahmu, terhadap engkau, sehingga Ia memunahkan engkau dari muka bumi”.

Keil & Delitzsch: “The threat and promise, which follow in vv. 5b and 6, relate to the first two commandments, and not to the second alone; because both of them, although forbidding two forms of idolatry, viz., idolo-latry and ikono-latry, are combined in a higher unity, by the fact, that whenever Jehovah, the God who cannot be copied because He reveals His spiritual nature in no visible form, is worshipped under some visible image, the glory of the invisible God is changed, or Jehovah changed into a different God from what He really is” (= ).

Calvin: “God is called jealous, because He permits no rivalry which may detract from His glory, nor does He suffer the service which is due to Him alone to be transferred elsewhere” (= ) - hal 423.

Matthew Henry: “Jealousy is quicksighted. Idolatry being spiritual adultery, as it is very often represented in scripture, the displeasure of God against it is fitly called jealousy. If God is jealous herein, we should be so, afraid of offering any worship to God otherwise than as he has appointed in his word” (= ).

Adam Clarke: “‘Jealous God.’ This shows in a most expressive manner the love of God toward this people. He felt for them as the most affectionate husband could do for his spouse, and was jealous for their fidelity” (= ).

6) ‘yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat’ (ay 5c).

Bdk. Ratapan 5:1-22 - “(1) Ingatlah, ya TUHAN, apa yang terjadi atas kami, pandanglah dan lihatlah akan kehinaan kami. (2) Milik pusaka kami beralih kepada orang lain, rumah-rumah kami kepada orang asing. (3) Kami menjadi anak yatim, tak punya bapa, dan ibu kami seperti janda. (4) Air kami kami minum dengan membayar, kami mendapat kayu dengan bayaran. (5) Kami dikejar dekat-dekat, kami lelah, bagi kami tak ada istirahat. (6) Kami mengulurkan tangan kepada Mesir, dan kepada Asyur untuk menjadi kenyang dengan roti. (7) Bapak-bapak kami berbuat dosa, mereka tak ada lagi, dan kami yang menanggung kedurjanaan mereka. (8) Pelayan-pelayan memerintah atas kami; yang melepaskan kami dari tangan mereka tak ada. (9) Dengan bahaya maut karena serangan pedang di padang gurun, kami harus mengambil makanan kami. (10) Kulit kami membara laksana perapian, karena nyerinya kelaparan. (11) Mereka memperkosa wanita-wanita di Sion dan gadis-gadis di kota-kota Yehuda. (12) Pemimpin-pemimpin digantung oleh tangan mereka, para tua-tua tidak dihormati. (13) Pemuda-pemuda harus memikul batu kilangan, anak-anak terjatuh karena beratnya pikulan kayu. (14) Para tua-tua tidak berkumpul lagi di pintu gerbang, para teruna berhenti main kecapi. (15) Lenyaplah kegirangan hati kami, tari-tarian kami berubah menjadi perkabungan. (16) Mahkota telah jatuh dari kepala kami. Wahai kami, karena kami telah berbuat dosa! (17) Karena inilah hati kami sakit, karena inilah mata kami jadi kabur: (18) karena bukit Sion yang tandus, di mana anjing-anjing hutan berkeliaran. (19) Engkau, ya TUHAN, bertakhta selama-lamanya, takhtaMu tetap dari masa ke masa! (20) Mengapa Engkau melupakan kami selama-lamanya, meninggalkan kami demikian lama? (21) Bawalah kami kembali kepadaMu, ya TUHAN, maka kami akan kembali, baharuilah hari-hari kami seperti dahulu kala! (22) Atau, apa Engkau sudah membuang kami sama sekali? Sangat murkakah Engkau terhadap kami?”.

Tetapi bagaimana dengan 2 ayat di bawah ini?

• Ul 24:16 - “Janganlah ayah dihukum mati karena anaknya, janganlah juga anak dihukum mati karena ayahnya; setiap orang harus dihukum mati karena dosanya sendiri”.

• Yeh 18:20 - “Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati. Anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya. Orang benar akan menerima berkat kebenarannya, dan kefasikan orang fasik akan tertanggung atasnya”.

Ada 2 kemungkinan pengharmonisan antara ay 5b ini dengan Ul 24:16 / Yeh 18:20:

a) Beberapa penafsir termasuk Calvin, beranggapan bahwa keturunan itu juga ketularan dosa dari nenek moyangnya, sehingga pada waktu mereka dihukum, mereka memang layak mendapatkan hukuman itu.

Bandingkan dengan:

• Kej 15:12-16 - “(12) Menjelang matahari terbenam, tertidurlah Abram dengan nyenyak. Lalu turunlah meliputinya gelap gulita yang mengerikan. (13) Firman TUHAN kepada Abram: ‘Ketahuilah dengan sesungguhnya bahwa keturunanmu akan menjadi orang asing dalam suatu negeri, yang bukan kepunyaan mereka, dan bahwa mereka akan diperbudak dan dianiaya, empat ratus tahun lamanya. (14) Tetapi bangsa yang akan memperbudak mereka, akan Kuhukum, dan sesudah itu mereka akan keluar dengan membawa harta benda yang banyak. (15) Tetapi engkau akan pergi kepada nenek moyangmu dengan sejahtera; engkau akan dikuburkan pada waktu telah putih rambutmu. (16) Tetapi keturunan yang keempat akan kembali ke sini, sebab sebelum itu kedurjanaan orang Amori itu belum genap.’”.

• Mat 23:30-36 - “(30) dan berkata: Jika kami hidup di zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu. (31) Tetapi dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri, bahwa kamu adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu. (32) Jadi, penuhilah juga takaran nenek moyangmu! (33) Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak! Bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka? (34) Sebab itu, lihatlah, Aku mengutus kepadamu nabi-nabi, orang-orang bijaksana dan ahli-ahli Taurat: separuh di antara mereka akan kamu bunuh dan kamu salibkan, yang lain akan kamu sesah di rumah-rumah ibadatmu dan kamu aniaya dari kota ke kota, (35) supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, orang benar itu, sampai kepada Zakharia anak Berekhya, yang kamu bunuh di antara tempat kudus dan mezbah. (36) Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya semuanya ini akan ditanggung angkatan ini!’”.

Kedua text di atas ini menunjukkan keturunan yang dihukum karena dosa nenek moyangnya, tetapi mereka sendiri juga jahat, sehingga memang pantas / layak menerima hukuman tersebut.

Adam Clarke: “‘Visiting the iniquity of the fathers upon the children.’ This necessarily implies - IF the children walk in the steps of their fathers, for no man can be condemned by divine justice for a crime of which he was never guilty; see Ezek. 18: Idolatry is however particularly intended and visiting sins of this kind refers principally to national judgments. By withdrawing the divine protection the idolatrous Israelites were delivered up into the hands of their enemies, from whom the gods in whom they had trusted could not deliver them. This God did to the third and fourth generations, i. e., successively; as may be seen in every part of the Jewish history, and particularly in the book of Judges” (= ).

Bdk. Im 26:38-42 - “(38) Dan kamu akan binasa di antara bangsa-bangsa lain, dan negeri musuhmu akan memusnahkan kamu. (39) Dan siapa yang masih tinggal hidup dari antaramu, mereka akan hancur lebur dalam hukumannya di negeri-negeri musuh mereka, dan karena kesalahan nenek moyang mereka juga mereka akan hancur lebur sama seperti nenek moyangnya. (40) Tetapi bila mereka mengakui kesalahan mereka dan kesalahan nenek moyang mereka dalam hal berubah setia yang dilakukan mereka terhadap Aku dan mengakui juga bahwa hidup mereka bertentangan dengan Daku (41) - Akupun bertindak melawan mereka dan membawa mereka ke negeri musuh mereka - atau bila kemudian hati mereka yang tidak bersunat itu telah tunduk dan mereka telah membayar pulih kesalahan mereka, (42) maka Aku akan mengingat perjanjianKu dengan Yakub; juga perjanjian dengan Ishak dan perjanjianKu dengan Abrahampun akan Kuingat dan negeri itu akan Kuingat juga”.

b) Yang dimaksud oleh ay 5b bukan hukuman tetapi akibat dari dosa.

Barnes’ Notes: “‘Visiting the iniquity of the fathers upon the children.’ ... Sons and remote descendants inherit the consequences of their fathers’ sins, in disease, poverty, captivity, with all the influences of bad example and evil communications. ... The ‘inherited curse’ seems to fall often most heavily on the least guilty persons; but such suffering must always be free from the sting of conscience; it is not like the visitation for sin on the individual by whom the sin has been committed. The suffering, or loss of advantages, entailed on the unoffending son, is a condition under which he has to carry on the struggle of life, and, like all other inevitable conditions imposed upon men, it cannot tend to his ultimate disadvantage, if he struggles well and perseveres to the end. The principle regulating the administration of justice by earthly tribunals (Deut. 24:16), is carried out in spiritual matters by the Supreme Judge” (= ).

7) ‘dari orang-orang yang membenci Aku’ (ay 5d).

Perhatikan bahwa para penyembah berhala disebutkan sebagai ‘orang-orang yang membenci Aku’.

Thomas Watson: “Another reason against image-worship is, that it is hating God. The Papists, who worship God by an image, hate God. Image-worship is a pretended love to God, but God interprets it as hating him. ... An image-lover is a God hater” (= Suatu alasan lain yang menentang penyembahan patung adalah bahwa itu adalah membenci Allah. Pengikut-pengikut Paus, yang menyembah Allah menggunakan patung, membenci Allah. Penyembahan patung merupakan suatu kasih yang pura-pura kepada Allah, tetapi Allah menafsirkannya sebagai membenci Dia. ... Seorang pecinta patung adalah seorang pembenci Allah) - ‘The Ten Commandments’, hhal 67.

8) ‘tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintahKu’ (ay 6).

a) ‘tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang’.

Bdk. Kel 34:6-7 - “(6) Berjalanlah TUHAN lewat dari depannya dan berseru: ‘TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasihNya dan setiaNya, (7) yang meneguhkan kasih setiaNya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat.’”.

Ul 7:9-11 - “(9) Sebab itu haruslah kauketahui, bahwa TUHAN, Allahmu, Dialah Allah, Allah yang setia, yang memegang perjanjian dan kasih setiaNya terhadap orang yang kasih kepadaNya dan berpegang pada perintahNya, sampai kepada beribu-ribu keturunan, (10) tetapi terhadap diri setiap orang dari mereka yang membenci Dia, Ia melakukan pembalasan dengan membinasakan orang itu. Ia tidak bertangguh terhadap orang yang membenci Dia. Ia langsung mengadakan pembalasan terhadap orang itu. (11) Jadi berpeganglah pada perintah, yakni ketetapan dan peraturan yang kusampaikan kepadamu pada hari ini untuk dilakukan.’”.

Keil & Delitzsch: “The sin of the fathers He visits (punishes) on the children to the third and fourth generation. SHILEESHIYM THIRD (sc., children) are not grandchildren, but great-grandchildren, and RIBEE`IYM the fourth generation. On the other hand He shows mercy to the thousandths, i. e., to the thousandth generation (cf. Deut. 7:9, where DOWR Lª'ELEP stands for LA'ALAAPIYM)” (= ).

Matthew Henry: “the favour God would show to his faithful worshippers: Keeping mercy for thousands of persons, thousands of generations of those that love me, and keep my commandments. This intimates that the second commandment, though, in the letter of it, it is only a prohibition of false worships, yet includes a precept of worshipping God in all those ordinances which he has instituted. As the first commandment requires the inward worship of love, desire, joy, hope, and admiration, so the second requires the outward worship of prayer and praise, and solemn attendance on God’s word” (= ).

Matthew Henry: “This mercy shall extend to thousands, much further than the wrath threatened to those that hate him, for that reaches but to the third or fourth generation” (= ).

Adam Clarke: “‘And showing mercy unto thousands.’ ... What a disproportion between the works of justice and mercy! Justice works to the third or fourth, mercy to thousands of generations!” (= ).

Barnes’ Notes: “‘Unto thousands.’ ‘unto the thousandth generation.’ Yahweh’s visitations of chastisement extend to the third and fourth generation, his visitations of mercy to the thousandth; that is, forever. That this is the true rendering seems to follow from Deut. 7:9” (=).

Catatan: apa benar kata-katanya? Saya kira Kel 20:5 memang berbeda dengan Ul 7:9. Tidak berarti bahwa terjemahan dari Kel 20:5 harus diubah.

b) ‘yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintahKu’.

Adam Clarke: “‘That love me, and keep my commandments.’ It was this that caused Christ to comprise the fulfilment of the whole law in love to God and man; ... And since love is the grand principle of obedience, and the only incentive to it, so there can be no obedience without it. It would be more easy, even in Egyptian bondage, to make bricks without straw, than to do the will of God unless His love be shed abroad in the heart of the Holy Spirit. Love, says the apostle, is the fulfilling of the law” (= ).

Bdk. Ro 13:10 - “Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat”.

Calvin: “when it is said, ‘unto them that love me,’ the fountain and origin of true righteousness is expressed; for the external observation of the Law would be of no avail unless it flowed from hence. And praise is given to love rather than to fear, because God is delighted with none but voluntary obedience, but He rejects that which is forced and servile” (= ) - hal 111.

9) Sikap Katolik terhadap hukum ke 2.

Wycliffe Bible Commentary: “There are different ways of dividing the Commandments. The Lutheran and Roman Catholic churches follow Augustine in making verses 2-6 the first commandment, and then dividing verse 17, on covetousness, into two. Modern Judaism makes verse 2 the first commandment and verses 3-6 the second. The earliest division, which can be traced back at least as far as Josephus, in the first century A.D., takes Exo 20:3 as the first command and 20:4-6 as the second. This division was supported unanimously by the early church, and is held today by the Eastern Orthodox and most Protestant churches” (= ).

Jamieson, Fausset & Brown: “The Roman Catholic Church, and the Lutherans after the example of Augustine, divide the commandments into the duties pertaining to God, comprised in the first three, and those relating to man, contained in the remaining seven. In their view also which is supported by the Masoretic division, the first commandment extends from Exo. 20:2 to Exo. 20:6; the second commandment is expressed in Exo. 20:7; and in order to make up the required number ten, they divide Exo. 20:17 into two. One part prohibits the coveting of another’s house, the second part the coveting of another’s wife, etc. (see the note at Exo. 24:12; 31:18)” (= ).

Catatan:

• bagi saya masalahnya bukanlah pembagian / division, karena sebetulnya kita tidak tahu pembagian dari 10 hukum Tuhan ini.

Barnes’ Notes: “The Hebrew name which is rendered in our King James Version as THE TEN COMMANDMENTS occurs in Exo. 34:28; Deut. 4:13; 10:4. It literally means ‘the Ten Words.’ The Ten Commandments are also called THE LAW, even THE COMMANDMENT (Exo. 24:12), THE WORDS OF THE COVENANT (Exo. 34:28), THE TABLES OF THE COVENANT (Deut. 9:9), THE COVENANT (Deut. 4:13), THE TWO TABLES (Deut. 9:10,17), and, most frequently, THE TESTIMONY (e. g. Exo. 16:34; 25:16 or THE TWO TABLES OF THE TESTIMONY (e. g. Exo. 31:18). In the New Testament they are called simply THE COMMANDMENTS (e. g. Matt. 19:17). The name DECALOGUE is found first in Clement of Alexandria, and was commonly used by the Fathers who followed him. Thus we know that the tables were two, and that the commandments were ten, in number. But the Scriptures do not, by any direct statements, enable us to determine with precision how the Ten Commandments are severally to be made out, nor how they are to be allotted to the Two tables. On each of these points various opinions have been held (see Exo. 20:12)” (= ).

Dalam tafsirannya tentang Kel 20:12, Barnes mengatakan sebagai berikut:

Barnes’ Notes: “Verse 12. ‘Honour thy father and thy mother.’ According to our usage, the fifth commandment is placed as the first in the second table; and this is necessarily involved in the common division of the commandments into our duty toward God and our duty toward men. But the more ancient, and probably the better, division allots five commandments to each table (compare Rom. 13:9), proceeding on the distinction that the First table relates to the duties which arise from our filial relations, the second to those which arise from our fraternal relations. The connection between the first four commandments and the fifth exists in the truth that all faith in God centers in the filial feeling. Our parents stand between us and God in a way in which no other beings can. On the maintenance of parental authority, see Exo. 21:15,17; Deut. 21:18-21” (= ).

• bagi saya masalah sebenarnya adalah penghapusan hukum ke 2 dalam 10 Hukum Tuhan versi Katolik.

Matthew Henry: “The best and most ancient lawgivers among the heathen forbade the setting up of images in their temples. This practice was forbidden in Rome by Numa, a pagan prince; yet commanded in Rome by the pope, a Christian bishop, but, in this, anti-christian. The use of images in the church of Rome, at this day, is so plainly contrary to the letter of this command, and so impossible to be reconciled to it, that in all their catechisms and books of devotion, which they put into the hands of the people, they leave out this commandment, joining the reason of it to the first; and so the third commandment they call the second, the fourth the third, etc.; only, to make up the number ten, they divide the tenth into two” (= ).

Adam Clarke: “To countenance its image worship, the Roman Catholic church has left the whole of this second commandment out of the decalogue, and thus lost one whole commandment out of the ten; but to keep up the number they have divided the tenth into two commandments. This is totally contrary to the faith of God’s elect and to the acknowledgment of that truth which is according to godliness. The verse is found in every MS. of the Hebrew Pentateuch that has ever yet been discovered. It is in all the ancient versions, Samaritan, Chaldee, Syriac, Septuagint, Vulgate, Coptic, and Arabic; also in the Persian, and in all modern versions. There is not one word of the whole verse lacking in the many hundreds of MSS. collected by Kennicott and De Rossi. This corruption of the word of God by the Roman Catholic Church stamps it, as a false and heretical church, with the deepest brand of ever-enduring infamy!” (= ).

Kata-kata Matthew Henry dan Adam Clarke tentang 10 hukum Tuhan versi Katolik ini sesuai dengan apa yang tertulis dalam ‘Catechism of the Catholic Church’ (sebelum no 2052), dimana dituliskan 10 hukum Tuhan versi Katolik sebagai berikut:

A Traditional Catechetical Formula

1. I am the LORD your God: you shall not have strange Gods before me.

2. You shall not take the name of the LORD your God in vain.

3. Remember to keep holy the LORD’S Day.

4. Honor your father and your mother.

5. You shall not kill.

6. You shall not commit adultery.

7. You shall not steal.

8. You shall not bear false witness against your neighbor.

9. You shall not covet your neighbor’s wife.

10. You shall not covet your neighbor’s goods.

Catatan: adalah tidak masuk akal dan tidak Alkitabiah untuk membagi hukum ke 10 menjadi 2. Mengapa?

• Kalau ‘jangan mengingini istri sesamamu’ disebutkan sebagai hukum ke 9 seperti dalam versi Katolik, itu mungkin masih bisa disesuaikan dengan Ul 5, dimana kata-kata ‘istri sesamamu’ menduduki tempat pertama, dan lalu disusul dengan ‘rumah, ladang, hamba, lembu, keledai sesamamu’. Tetapi bagaimana hal itu bisa disesuaikan dengan Kel 20:17, dimana kata-kata ‘rumah sesamamu’ menduduki tempat pertama, dan sesudah itu baru ‘istrinya’?

Ul 5:21 - “Jangan mengingini isteri sesamamu, dan jangan menghasratkan rumahnya, atau ladangnya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya, atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu”.

Kel 20:17 - “Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.’”.

• Pada waktu Paulus mengutip hukum ke 10 ini, ia memperlakukannya sebagai satu kesatuan.

Calvin (tentang Kel 20:12): “the prohibition of God to covet either our neighbour’s wife or his house, is foolishly separated into two parts, whereas it is quite clear that only one thing is treated of, as we gather from the words of Paul, who quotes them as a single Commandment. (Rom. 7:7.) ... the fact itself explains how one error has grown out of another; for, when they had improperly hidden the Second Commandment under the First, and consequently did not find the right number, they were forced to divide into two parts what was one and indivisible” [= larangan Allah untuk mengingini istri sesama kita atau rumahnya, secara bodoh dipisahkan menjadi 2 bagian, padahal adalah cukup jelas bahwa hanya satu hal yang dibicarakan, seperti yang bisa kita dapatkan dari kata-kata Paulus, yang mengutip mereka sebagai satu Perintah / Hukum (Ro 7:7). ... fakta itu sendiri menjelaskan bagaimana satu kesalahan telah tumbuh dari kesalahan yang lain; karena, pada waktu mereka secara tidak benar telah menyembunyikan Perintah / Hukum kedua di bawah Perintah / Hukum pertama, dan karena itu tidak bisa mendapatkan bilangan yang benar (tak bisa mendapatkan bilangan 10), mereka terpaksa membagi menjadi 2 bagian apa yang seharusnya adalah satu dan tidak bisa dibagi-bagi] - hal 6.

Bdk. Ro 7:7 - “Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah hukum Taurat itu dosa? Sekali-kali tidak! Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: ‘Jangan mengingini!’”.

Calvin: “Idolaters in vain endeavour to elude this second point by their foolish cavils; as amongst the Papists that trifling distinction is commonly advanced, that only latreia, and not douleia is prohibited. For Moses, first of all, comprehends generally all the forms and ceremony of worship; and then adds immediately afterwards the word dbf,GNABAD, which means properly ‘to serve.’ Hence we conclude that they make a childish endeavour at evasion, when they pay only the honour of ‘service’ to picture and statues” (= ) - hal 109.

Catatan: kata Ibrani dbf seharusnya dibaca AVAD, bukan GNABAD.

HUKUM KETIGA


"Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut namaNya dengan sembarangan.”

1) Nama TUHAN / YHWH.

Dalam Perjanjian Lama kata ‘Tuhan’ berasal dari kata Ibrani ADONAY, sedangkan kata ‘TUHAN’ berasal dari kata Ibrani YHWH.

Catatan: kata ‘ALLAH’ dalam Perjanjian Lama juga berasal dari kata Ibrani YHWH.

Mungkin saudara merasa heran dengan kata YHWH ini. Mengapa tidak ada huruf hidupnya? Bagaimana membacanya? Sebetulnya jaman sekarang ini tidak ada orang yang tahu dengan pasti bagaimana membaca nama itu. Perlu saudara ketahui bahwa dalam bahasa Ibrani sebetulnya tidak ada huruf hidup. Dalam abjad Ibrani ada 22 huruf, dan tidak satupun merupakan huruf hidup. Jadi mereka menulis dengan huruf mati saja, tetapi dalam pengucapannya tentu saja ada bunyi huruf hidup. Mungkin saudara merasa heran. Bagaimana mungkin orang bisa mengerti kalau hanya menggunakan huruf mati saja? Coba saudara pikirkan, kalau saudara menulis sms, maka seringkali untuk menyingkat maka saudara membuang huruf-huruf hidup juga, bukan? Tetapi orang tetap bisa mengerti kata-kata yang ditulis tanpa huruf hidup. Jadi, kalau seseorang menguasai suatu bahasa, adalah mungkin baginya untuk mengerti, sekalipun kata-katanya ditulis tanpa huruf hidup.

Pada waktu Tuhan memperkenalkan namaNya kepada Israel / Musa, tentu mereka tahu bagaimana mengucapkan nama YHWH itu. Tetapi gara-gara adanya hukum ketiga ini, yang melarang untuk menggunakan nama Tuhan dengan sembarangan, Israel menjadi begitu takut mengucapkan nama Tuhan sehingga mereka tidak pernah mengucapkannya sama sekali. Setelah ratusan tahun berlalu akhirnya tidak ada seorangpun yang tahu bagaimana mengucapkan nama tersebut. Kebanyakan orang menganggap bahwa pengucapannya adalah YAHWEH, tetapi tidak ada orang yang pasti tentang hal ini.

Lalu dari mana muncul istilah YEHOVAH? Seorang dosen saya mengatakan bahwa huruf-huruf hidup dari kata ADONAY diambil, dan dimasukkan disela-sela kata YHWH, sehingga didapatkan kata YAHOWAH, yang lalu dalam logat Jerman diucapkan YEHOWAH. Tetapi dalam Encyclopedia Britannica 2000 dikatakan bahwa huruf-huruf hidup dari kata Ibrani ELOHIM dan kata Ibrani ADONAY dimasukkan ke dalam kata YHWH itu sehingga didapat kata YEHOWAH. Dari penjelasan ini jelas bahwa pengucapan YEHOVAH sudah pasti merupakan pengucapan yang salah!

Catatan: Perlu saudara ketahui bahwa dalam bahasa Ibrani huruf V dan W adalah sama.

Encyclopedia Britannica 2000: “the God of the Israelites, his name being revealed to Moses as four Hebrew CONSONANTS (YHWH) CALLED THE TETRAGRAMMATON. AFTER THE EXILE (6TH CENTURY BC), and especially from the 3rd century BC on, Jews ceased to use the name Yahweh for two reasons. As Judaism became a universal religion through its proselytizing in the Greco-Roman world, the more common noun elohim, meaning ‘god,’ tended to replace Yahweh to demonstrate the universal sovereignty of Israel’s God over all others. At the same time, the divine name was increasingly regarded as too sacred to be uttered; it was thus replaced vocally in the synagogue ritual by the Hebrew word Adonai (‘My Lord’), which was translated as Kyrios (‘Lord’) in the Septuagint, the Greek version of the Old Testament.The Masoretes, who from about the 6th to the 10th century worked to reproduce the original text of the Hebrew Bible, replaced the vowels of the name YHWH with the vowel signs of the Hebrew words Adonai or Elohim. Thus, the artificial name Jehovah (YeHoWaH) came into being. Although Christian scholars after the Renaissance and Reformation periods used the term Jehovah for YHWH, in the 19th and 20th centuries biblical scholars again began to use the form Yahweh. Early Christian writers, such as Clement of Alexandria in the second century, had used a form like Yahweh, and this pronunciation of the tetragrammaton was never really lost. Other Greek transcriptions also indicated that YHWH should be pronounced Yahweh” (= ).

2) Haruskah kita menggunakan nama YHWH / YAHWEH?

Sekarang ada gerakan dari sebagian orang Kristen yang menghendaki bahwa kata ‘TUHAN’ dalam Kitab Suci kita dikembalikan menjadi YAHWEH. Saya tidak keberatan kalau mereka menghendaki hal itu selama mereka tidak mengharuskan hal itu dan menyalahkan orang-orang yang tetap menggunakan istilah ‘LORD’ / ‘TUHAN’. Mengapa saya tidak setuju pengharusan penggunakan nama YAHWEH? Karena:

a) LXX / Septuaginta (Perjanjian Lama yang diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani) menterjemahkan kata YHWH itu dengan istilah Yunani KURIOS, yang artinya memang ‘LORD’ / ‘TUHAN’.

Satu hal yang patut diperhatikan adalah: Yesus tidak pernah menyalahkan LXX / Septuaginta yang menggunakan kata Yunani KURIOS untuk nama YHWH itu.

Herman Hoeksema: “From this practice must undoubtedly also be explained the fact that the Septuagint uniformly translates hvhy by Kurios” [= Dari praktek ini tidak diragukan harus dijelaskan fakta bahwa Septuaginta secara seragam menterjemahkan hvhy (YHWH) dengan Kurios (KURIOS)] - ‘Reformed Dogmatics’, hall 68.

The International Standard Bible Encyclopedia, vol II: “Greek kyrios is usually translated ‘Lord’ in the English versions and is the equivalent of Heb. YHWH in the LXX (e.g., Isa. 40:3; HR, II, 800-839)” [= Kata bahasa Yunani KURIOS biasanya diterjemahkan ‘Lord / Tuhan’ dalam versi-versi Inggris dan merupakan kata yang sama artinya dengan kata bahasa Ibrani YHWH dalam LXX (contoh: Yes 40:3; HR, II, 800-839)] - hal 508.

Dalam tafsirannya tentang Mark 12:35-37a William Barclay berkata: “This word ‘Lord’ (the Greek KURIOS) is the regular translation of Jahweh (Jehovah) in the Greek version of the Hebrew scriptures” [= Kata ‘Tuhan’ ini (Yunani KURIOS) merupakan terjemahan biasa dari YAHWEH (Yehovah) dalam versi Yunani dari Kitab Suci Ibrani] - hal 298.

Dalam tafsirannya tentang Ro 10:9-10, William Barclay berkata: “The word for Lord is KURIOS. ... In the Greek translation of the Hebrew scriptures it is the regular translation of the divine name, Jahweh or Jehovah” [= Kata untuk Tuhan adalah KURIOS. ... Dalam terjemahan Yunani dari Kitab Suci Ibrani, itu merupakan terjemahan biasa / tetap dari nama ilahi, Yahweh atau Yehovah] - hal 139.

Dalam tafsirannya tentang 1Kor 12:1-3, William Barclay berkata: “The word for Lord was KURIOS ... It was the word by which the sacred name Jehovah was rendered in the Greek translation of the Old Testament scriptures” [= Kata untuk Tuhan adalah KURIOS ... Itu merupakan kata dengan mana nama yang keramat Yehovah diterjemahkan dalam terjemahan Yunani dari Kitab Suci Perjanjian Lama] - hal 107.

b) Perjanjian Baru sendiri, pada waktu mengutip ayat-ayat Perjanjian Lama yang menggunakan kata YHWH, menggunakan kata Yunani KURIOS, yang artinya ‘LORD’ / ‘TUHAN’.

John Calvin: “we know from the common custom of the Greeks that the apostles usually substitute the name kurioj (Lord) for Jehovah” [= kita / kami tahu dari kebiasaan umum dari orang-orang Yunani bahwa rasul-rasul menggantikan nama kurioj (Tuhan) untuk Yehovah] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter XIII, no 20.

Bavinck: “In the N. T. the name Jehovah is explicated a few times by ‘the Alpha and the Omega,’ ‘who is and who was and who is to come,’ ‘the first and the last,’ ‘the beginning and the end,’ Rev. 1:4,8,17; 2:8; 21:6; 22:13. For the rest the LXX is followed, which substituted Adonai for it, which has been rendered ‘Lord’ (Kyrios) in the New Testament, derived from Kyros strength” [= Dalam PB nama Yehovah dijelaskan beberapa kali oleh ‘Alfa dan Omega’, ‘yang ada dan yang sudah ada yang akan datang’, ‘Yang Pertama dan Yang Terakhir / Terkemudian’, ‘Yang Awal dan Yang Akhir’, Wah 1:4,8,17; 2:8; 21:6; 22:13. Untuk sisanya LXX / Septuaginta diikuti, yang menggantikan Adonai untuknya, yang telah diterjemahkan ‘Lord’ (KURIOS) dalam Perjanjian Baru, diturunkan dari kata KUROS, yang artinya ‘kekuatan’] - ‘The Doctrine of God’, haal 109.

W. E. Vine: “KURIOS is the Sept. and N.T. representative of Heb. Jehovah (‘LORD’ in Eng. versions), see Matt. 4:7; Jas. 5:11, e.g.” [= Dalam Septuaginta dan Perjanjian Baru, KURIOS adalah wakil dari kata Ibrani Yehovah (LORD / TUHAN dalam versi-versi Inggris), lihat Mat 4:7; Yak 5:11 sebagai contoh] - ‘An Expository Dictionary of New Testament Words’, hal 688.

Catatan:

• Mat 4:7 dikutip dari Ul 6:16, tetapi kalau dalam Ul 6:16 digunakan kata YAHWEH / YEHOVAH, maka dalam Mat 4:7 digunakan kata KURIOS.

Ul 6:16 - “Janganlah kamu mencobai TUHAN (Ibrani: YHWH), Allahmu, seperti kamu mencobai Dia di Masa”.

Mat 4:7 - “Yesus berkata kepadanya: ‘Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan (Yunani: KURION), Allahmu!’”.

• Yak 5:11 tidak terlalu jelas karena itu bukan suatu kutipan. Tetapi kata-kata ‘apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya’ kelihatannya menunjuk pada bagian akhir dari kitab Ayub, pada saat Tuhan memulihkan kesehatan dan harta Ayub, yaitu Ayub 42:10. Dalam Ayub 42:10 digunakan kata YAHWEH / YEHOVAH, tetapi dalam Yak 5:11 digunakan kata KURIOS.

Yak 5:11 - “Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan (Yunani: KURIOU) baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan”.

Ayub 42:10 - “Lalu TUHAN (Ibrani: YHWH) memulihkan keadaan Ayub, setelah ia meminta doa untuk sahabat-sahabatnya, dan TUHAN memberikan kepada Ayub dua kali lipat dari segala kepunyaannya dahulu”.

Catatan: jangan mempersoalkan perbedaan KURIOS dan KURION / KURIOU. Perbedaannya ada hanya karena beda posisi / letaknya dalam kalimat. Sama seperti dalam bahasa Inggris, kata ‘he’ bisa berubah menjadi ‘him’ atau ‘his’ tergantung pada posisi / letaknya dalam kalimat.

c) Kalau Tuhan memang mengharuskan kita untuk menggunakan nama YHWH / YAHWEH, maka adalah aneh bahwa Ia mengijinkan pengucapan nama itu hilang sehingga jaman sekarang tidak ada orang yang tahu bagaimana mengucapkannya. Dan kalaupun nama itu hilang pengucapannya, waktu Yesus melayani selama 3 ½ tahun di dunia ini, mengapa Ia tidak memberitahu murid-muridNya bagaimana mengucapkan nama itu? Mungkin Yesus tidak pernah menggunakan nama itu, karena kalau Ia menggunakan nama itu, para murid pasti akan tahu bagaimana mengucapkan nama itu. Dan kalau para murid tahu, maka seluruh gereja sampai saat ini juga akan tahu. Tetapi kenyataannya tidak ada yang tahu bagaimana mengucapkan nama tersebut.

3) Hukum ketiga ini melarang untuk menyebut nama ‘TUHAN’ dengan sembarangan.

a) Hukum ketiga ini bukan melarang kita menggunakan nama Tuhan sama sekali! Jadi, jangan menanggapinya secara extrim seperti yang dilakukan oleh bangsa Israel pada jaman dulu.

b) Sebetulnya kata ‘TUHAN’ dalam Kel 20:7 menunjuk kepada nama ‘Yahweh’ / ‘Yehovah’, tetapi saya berpendapat bahwa ini juga bisa diberlakukan terhadap kata ‘Tuhan’, ‘Allah’, ‘Yesus’, ‘Kristus’, ‘God’, ‘Lord’, dsb.

c) Perlu diingat bahwa sikap / cara kita menggunakan nama Tuhan, menunjukkan sikap kita terhadap Tuhan sendiri.

e) Contoh pelanggaran terhadap hukum ini:

1. Mencaci maki / menghujat / mengutuk Tuhan (Im 24:10-16,23).

Ayatnya akan kita baca di bawah nanti.

2. Bersumpah dusta / mengutuk dengan menggunakan nama Tuhan.

Im 19:12 - “Janganlah kamu bersumpah dusta demi namaKu, supaya engkau jangan melanggar kekudusan nama Allahmu; Akulah TUHAN”.

Tetapi mungkin dipertanyakan: bukankah orang Kristen tidak boleh bersumpah sama sekali?

Jawabannya: sebetulnya orang Kristen bukan dilarang bersumpah secara mutlak.

Sepintas lalu, kata-kata Yesus dalam Mat 5:34a yang berbunyi: “Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah”, melarang sumpah secara mutlak. Tetapi saya berpendapat bahwa sebetulnya sumpah tidak dilarang secara mutlak.

Calvin (tentang Mat 5:34): “Many have been led by the phrase, ‘not at all,’ to adopt the false notion, that every kind of swearing is condemned by Christ” (= Banyak orang telah dibimbing oleh ungkapan ‘janganlah sekali-kali’ untuk mengambil maksud yang salah, bahwa setiap jenis sumpah dikecam oleh Kristus) - hal 294.

Calvin berpendapat bahwa kata-kata Yesus dalam Mat 5:34a ini tidak boleh dipisahkan dari kata-kata selanjutnya, yang menunjukkan sumpah yang bagaimana yang Ia maksud, yaitu sumpah demi langit, demi bumi, demi Yerusalem, demi kepalamu (Mat 5:34-36), yang oleh orang-orang Yahudi dianggap remeh / tak berarti. Jadi, yang dilarang adalah sumpah sembarangan.

Alasan-alasan yang menunjukkan bahwa sumpah tidak mungkin dilarang secara mutlak:

a. Perjanjian Lama mengijinkan, bahkan mengharuskan sumpah, dalam hal-hal tertentu.

Ul 6:13 - “Engkau harus takut akan TUHAN, Allahmu; kepada Dia haruslah engkau beribadah dan demi namaNya HARUSLAH engkau bersumpah”.

Kel 22:7-8 - “(7) Apabila seseorang menitipkan kepada temannya uang atau barang, dan itu dicuri dari rumah orang itu, maka jika pencuri itu terdapat, ia harus membayar ganti kerugian dua kali lipat. (8) Jika pencuri itu tidak terdapat, maka tuan rumah HARUS pergi menghadap Allah untuk bersumpah, bahwa ia tidak mengulurkan tangannya mengambil harta kepunyaan temannya”.

Kel 22:10-11 - “(10) Apabila seseorang menitipkan kepada temannya seekor keledai atau lembu atau seekor domba atau binatang apapun dan binatang itu mati, atau patah kakinya atau dihalau orang dengan kekerasan, dengan tidak ada orang yang melihatnya, (11) maka sumpah di hadapan TUHAN HARUS menentukan di antara kedua orang itu, apakah ia tidak mengulurkan tangannya mengambil harta kepunyaan temannya, dan pemilik harus menerima sumpah itu, dan yang lain itu tidak usah membayar ganti kerugian”.

Bil 5:11-28 - “(11) TUHAN berfirman kepada Musa: (12) ‘Berbicaralah kepada orang Israel dan katakanlah kepada mereka: Apabila isteri seseorang berbuat serong dan tidak setia terhadap suaminya, (13) dan laki-laki lain tidur dan bersetubuh dengan perempuan itu, dengan tidak diketahui suaminya, karena tinggal rahasia bahwa perempuan itu mencemarkan dirinya, tidak ada saksi terhadap dia, dia tidak kedapatan, (14) dan apabila kemudian roh cemburu menguasai suami itu, sehingga ia menjadi cemburu terhadap isterinya, dan perempuan itu memang telah mencemarkan dirinya, atau apabila roh cemburu menguasai suami itu, sehingga ia menjadi cemburu terhadap isterinya, walaupun perempuan itu tidak mencemarkan dirinya, (15) maka haruslah orang itu membawa isterinya kepada imam. Dan orang itu harus membawa persembahan karena perempuan itu sebanyak sepersepuluh efa tepung jelai, yang ke atasnya tidak dituangkannya minyak dan yang tidak dibubuhinya kemenyan, karena korban itu ialah korban sajian cemburuan, suatu korban peringatan yang mengingatkan kepada kedurjanaan. (16) Maka haruslah imam menyuruh perempuan itu mendekat dan menghadapkannya kepada TUHAN. (17) Lalu imam harus membawa air kudus dalam suatu tempayan tanah, kemudian harus memungut debu yang ada di lantai Kemah Suci dan membubuhnya ke dalam air itu. (18) Apabila imam sudah menghadapkan perempuan itu kepada TUHAN, haruslah ia menguraikan rambut perempuan itu, lalu meletakkan korban peringatan, yakni korban sajian cemburuan, ke atas telapak tangan perempuan itu, sedang di tangan imam haruslah ada air pahit yang mendatangkan kutuk. (19) Maka HARUSLAH imam menyumpah perempuan itu dengan berkata kepadanya: Jika tidak benar ada laki-laki yang tidur dengan engkau, dan jika tidak engkau berbuat serong kepada kecemaran, (20) padahal engkau di bawah kuasa suamimu, maka luputlah engkau dari air pahit yang mendatangkan kutuk ini; tetapi jika engkau, padahal engkau di bawah kuasa suamimu, berbuat serong dan mencemarkan dirimu, oleh karena orang lain dari suamimu sendiri bersetubuh dengan engkau - (21) dalam hal ini HARUSLAH imam menyumpah perempuan itu dengan sumpah kutuk, dan haruslah imam berkata kepada perempuan itu - maka TUHAN kiranya membuat engkau menjadi sumpah kutuk di tengah-tengah bangsamu dengan mengempiskan pahamu dan mengembungkan perutmu, (22) sebab air yang mendatangkan kutuk ini akan masuk ke dalam tubuhmu untuk mengembungkan perutmu dan mengempiskan pahamu. Dan haruslah perempuan itu berkata: Amin, amin. (23) Lalu imam harus menuliskan kutuk itu pada sehelai kertas dan menghapusnya dengan air pahit itu, (24) dan ia harus memberi perempuan itu minum air pahit yang mendatangkan kutuk itu, dan air itu akan masuk ke dalam badannya dan menyebabkan sakit yang pedih. (25) Maka haruslah imam mengambil korban sajian cemburuan dari tangan perempuan itu lalu mengunjukkannya ke hadapan TUHAN, dan membawanya ke mezbah. (26) Sesudah itu haruslah imam mengambil segenggam dari korban sajian itu sebagai bagian ingat-ingatannya dan membakarnya di atas mezbah, kemudian memberi perempuan itu minum air itu. (27) Setelah terjadi demikian, apabila perempuan itu memang mencemarkan dirinya dan berubah setia terhadap suaminya, air yang mendatangkan sumpah serapah itu akan masuk ke badannya dan menyebabkan sakit yang pedih, sehingga perutnya mengembung dan pahanya mengempis, dan perempuan itu akan menjadi sumpah kutuk di antara bangsanya. (28) Tetapi apabila perempuan itu tidak mencemarkan dirinya, melainkan ia suci, maka ia akan bebas dan akan dapat beranak.’”.

1Raja 8:31-32 - “(31) Jika seseorang telah berdosa kepada temannya, lalu DIWAJIBKAN mengangkat sumpah dengan mengutuk dirinya, dan dia datang bersumpah ke depan mezbahMu di dalam rumah ini, (32) maka Engkaupun kiranya mendengarkannya di sorga dan bertindak serta mengadili hamba-hambaMu, yakni menyatakan bersalah orang yang bersalah dengan menanggungkan perbuatannya kepada orang itu sendiri, tetapi menyatakan benar orang yang benar dengan memberi pembalasan kepadanya yang sesuai dengan kebenarannya”.

Dan Yesus tidak mungkin bertentangan dengan Perjanjian Lama (bdk. Mat 5:17-19).

b. Yes 45:23 - “Demi Aku sendiri Aku telah bersumpah, dari mulutKu telah keluar kebenaran, suatu firman yang tidak dapat ditarik kembali: dan semua orang akan bertekuk lutut di hadapanKu, dan akan bersumpah setia dalam segala bahasa”.

Ayat ini menunjukkan bahwa sumpah seseorang demi nama Tuhan menunjukkan pengakuannya terhadap Allah yang benar!

c. Pada waktu Yesus diadili oleh Sanhedrin, dan Ia disuruh berbicara di bawah sumpah, Ia bukannya menegur mereka yang menyuruhNya bersumpah, tetapi sebaliknya Ia mau menjawab, padahal tadinya Ia tidak mau berbicara.

Mat 26:63-64 - “(63) Tetapi Yesus tetap diam. Lalu kata Imam Besar itu kepadaNya: ‘Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak.’ (64) Jawab Yesus: ‘Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit.’”.

Catatan: kata-kata ‘Engkau telah mengatakannya’ artinya adalah ‘Ya’.

d. Bukan hanya dalam Perjanjian Lama, tetapi dalam Perjanjian Baru juga ada ayat yang kelihatannya mengijinkan sumpah.

Ibr 6:13-17 - “(13) Sebab ketika Allah memberikan janjiNya kepada Abraham, Ia bersumpah demi diriNya sendiri, karena tidak ada orang yang lebih tinggi dari padaNya, (14) kataNya: ‘Sesungguhnya Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan akan membuat engkau sangat banyak.’ (15) Abraham menanti dengan sabar dan dengan demikian ia memperoleh apa yang dijanjikan kepadanya. (16) Sebab manusia bersumpah demi orang yang lebih tinggi, dan sumpah itu menjadi suatu pengokohan baginya, yang mengakhiri segala bantahan. (17) Karena itu, untuk lebih meyakinkan mereka yang berhak menerima janji itu akan kepastian putusanNya, Allah telah mengikat diriNya dengan sumpah”.

e. Dalam Wah 10:5-6 malaikat bersumpah.

Wah 10:5-6 - “Dan malaikat yang kulihat berdiri di atas laut dan di atas bumi, mengangkat tangan kanannya ke langit, dan ia bersumpah demi Dia yang hidup sampai selama-lamanya, yang telah menciptakan langit dan segala isinya, dan bumi dan segala isinya, dan laut dan segala isinya, katanya: ‘Tidak akan ada penundaan lagi!”.

f. Paulus sering bersumpah.

Ro 1:9 - “Karena Allah, yang kulayani dengan segenap hatiku dalam pemberitaan Injil AnakNya, adalah saksiku, bahwa dalam doaku aku selalu mengingat kamu”.

Ro 9:1 - “Aku mengatakan kebenaran dalam Kristus, aku tidak berdusta. Suara hatiku turut bersaksi dalam Roh Kudus”.

1Kor 15:31 - “Saudara-saudara, tiap-tiap hari aku berhadapan dengan maut. Demi kebanggaanku akan kamu dalam Kristus Yesus, Tuhan kita, aku katakan, bahwa hal ini benar”.

2Kor 1:23 - “Tetapi aku memanggil Allah sebagai saksiku - Ia mengenal aku -, bahwa sebabnya aku tidak datang ke Korintus ialah untuk menyayangkan kamu”.

Gal 1:20 - “Di hadapan Allah kutegaskan: apa yang kutuliskan kepadamu ini benar, aku tidak berdusta”.

Fil 1:8 - “Sebab Allah adalah saksiku betapa aku dengan kasih mesra Kristus Yesus merindukan kamu sekalian”.

Betul-betul tidak terbayangkan bahwa Paulus, yang adalah rasul yang begitu saleh, bisa berulang kali bersumpah kalau sumpah memang dilarang secara mutlak.

Semua ini menunjukkan bahwa sumpah tidak dilarang secara mutlak. Dalam pengadilan, atau dalam hal-hal yang penting lainnya, kita boleh bersumpah.

Calvin bahkan mengatakan bahwa bersumpah bukan hanya boleh, tetapi itu bahkan merupakan suatu pengakuan bahwa Allah itu lebih tinggi dari kita dan dengan demikian merupakan suatu penghormatan terhadap Allah.

Calvin: “in swearing we confess that God has total superiority over us. Whoever is inferior swears by his sovereign, says the apostle to the Hebrews. ... Thus we see that in swearing we do homage to God. ... That is why God considers it a type of service when men swear by his name, provided the oaths are not superfluous. ... we acknowledge that God is our superior, lo, our sovereign, whenever we swear by his name” (= ) - ‘John Calvin’s Sermons On The Ten Commandments’, hal 83,86.

Ibr 6:13,16 - “(13) Sebab ketika Allah memberikan janjiNya kepada Abraham, Ia bersumpah demi diriNya sendiri, karena tidak ada orang yang lebih tinggi dari padaNya, ... (16) Sebab manusia bersumpah demi orang yang lebih tinggi, dan sumpah itu menjadi suatu pengokohan baginya, yang mengakhiri segala bantahan”.

Yang dilarang adalah bersum¬pah secara sembarangan, untuk hal-hal yang tidak penting, sekalipun hal yang dikatakan itu merupakan kebenaran. Hal ini ditekankan lagi secara lebih khusus dalam Mat 5:37 - “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat”.

Calvin: “in short let us conclude that it is necessary to hold the name of God in such a reverence that all our oaths may be banished among us, unless necessity requires it and God allows us to use his name” (= ) - ‘John Calvin’s Sermons On The Ten Commandments’, hal 87.

Calvin (tentang Kel 20:7): “God’s name, then, is taken in vain, not only when any one abuses it by perjury, but when it is lightly and disrespectfully adduced in proof of frivolous and trifling matters: speak with respect to oaths” (= ) - hal 409.

3. Calvin menganggap bahwa hukum ketiga ini juga dilanggar pada waktu seseorang bersumpah demi nama dewa / allah lain atau berdoa kepada dewa / allah lain.

Kel 23:13 - “Dalam segala hal yang Kufirmankan kepadamu haruslah kamu berawas-awas; nama allah lain janganlah kamu panggil, janganlah nama itu kedengaran dari mulutmu.’”.

Tentu maksud dari ayat ini bukan kalau kita sekedar menyebut nama dewa / allah lain itu, tetapi kalau kita berdoa kepadanya atau bersumpah demi namanya, atau melakukan apapun sambil menyebut namanya yang menunjukkan kepercayaan / penghormatan / penyembahan kepadanya.

Calvin (tentang Kel 23:13): “There is no sort of doubt but that this declaration should be connected with the Third Commandment. Moses explains that God’s name is taken in vain and abused, if men swear by other gods; for it is not lawful to refer the judgment of things unknown to any other that the one true God. Consequently, the glory of the Deity is transferred to those by whose name men swear” (= ) - hal 411.

Bdk. Zef 1:4-6 - “(4) Aku akan mengacungkan tanganKu terhadap Yehuda dan terhadap segenap penduduk Yerusalem. Aku akan melenyapkan dari tempat ini sisa-sisa Baal dan nama para imam berhala, (5) juga mereka yang sujud menyembah di atas sotoh kepada tentara langit dan mereka yang menyembah dengan bersumpah setia kepada TUHAN, namun di samping itu bersumpah demi Dewa Milkom, (6) serta mereka yang berbalik dari pada TUHAN, yang tidak mencari TUHAN dan tidak menanyakan petunjukNya.’”.

4. Penyebutan nama Allah dengan sembarangan / sia-sia / tidak hormat.

Calvin: “it is clear that not only when we swear by God, His name is to be reverently honoured, but whenever mention of it is made” (= adalah jelas bahwa bukan hanya pada waktu kita bersumpah demi Allah, namanya harus dihormati, tetapi kapanpun namaNya disebutkan) - hal 408.

Calvin: “men should not drag in His name in light matters, as in sport or derision of Him, which cannot be done without insulting and profaning it” (= manusia tidak boleh membawa-bawa namaNya dalam hal-hal remeh, seperti dalam guyonan atau olok-olok tentang Dia, yang tidak bisa dilakukan tanpa menghina dan mencemarkannya) - hal 409.

Misalnya:

• seruan-seruan (kebiasaan) dengan menggunakan nama Tuhan seperti: ‘Masya Allah’, ‘Aduh Allah’, ‘Ya Allah’, dsb, juga merupakan pelanggaran terhadap hukum ketiga ini. Dalam bahasa Inggris hal seperti ini juga sering dilakukan, misalnya dengan kata-kata ‘My God’, ‘My Lord’, ‘Jesus’, ‘Jesus Christ’. dan sebagainya. Mengatakan ‘Insya Allah’ (= Jika Allah menghendaki), sebetulnya bukan dosa, asal kita betul-betul memaksudkan hal itu. Tetapi kalau kita mengucapkannya hanya sebagai basa basi, maka itu juga termasuk menyebut nama Allah dengan sia-sia.

Adam Clarke: “Is it necessary to say to any truly spiritual mind, that all such interjections as O God! My God! Good God! Good Heavens! etc., etc., are formal positive breaches of this law?” (= Apakah perlu untuk mengatakan kepada pikiran yang rohani manapun, bahwa semua seruan seperti O God! My God! Good God! Good Heavens! dsb, dsb, merupakan pelanggaran positif yang resmi dari hukum ini?).

• menggunakan nama Tuhan untuk lelucon / percakapan yang tidak ada gunanya.

Contoh: ada gereja yang mengeluarkan warta gereja berisikan lelucon yang berjudul ‘kuda kristen’. Ceritanya adalah sebagai berikut: Ada sebuah gereja yang mempunyai seekor kuda. Kuda itu dilatih untuk berjalan kalau mendengar kata-kata ‘Puji Tuhan’, dan berhenti kalau mendengar kata ‘Haleluya’. Suatu hari seorang pendeta tamu, yang adalah pendeta Pentakosta, menaiki kuda itu setelah diajar tentang kata sandi yang diperlukan untuk menjalankan dan menghentikan kuda itu. Ia lalu berkata ‘Puji Tuhan’, dan kuda itu lalu mulai berjalan. Ia berkata lagi ‘Puji Tuhan’ berkali-kali dan kuda itu berlari makin lama makin cepat. Tiba-tiba pendeta itu melihat bahwa di depannya ada suatu sungai. Ia menjadi panik sehingga lupa kata sandi untuk menghentikan kudanya. Ia lalu memejamkan matanya dan berdoa: ‘Tuhan tolong hentikan kuda ini, Haleluya, Amin’. Kuda itu mendengar kata ‘Haleluya’ dalam doa pendeta itu dan ia berhenti, persis di tepi sungai. Pendeta itu membuka matanya dan melihat kuda itu berhenti persis di tepi sungai, dan ia lalu berseru ‘Puji Tuhan’, dan ‘byur’, ia dan kudanya masuk ke sungai!

Boleh jadi cerita ini lucu, tetapi apa manfaatnya? Sedikitpun tidak ada! Dan karena itu ini termasuk cerita yang menggunakan nama Allah secara sembarangan! Karena itu jangan mengkulak cerita-cerita seperti ini!

• mengatakan ‘Haleluya / Puji Tuhan’ sekedar sebagai suatu kebiasaan sehingga keluar dari mulut tanpa hatinya betul-betul memuji Tuhan.

• menyanyi memuji Tuhan atau berdoa tetapi hanya dengan mulut saja, tidak dengan hati.

Adam Clarke: “we may safely add to all these, that every prayer, vociferation, etc., that is not accompanied with deep reverence and the genuine spirit of piety, is here condemned also. In how many thousands of instances is this commandment broken in the prayers, whether read or extempore, of inconsiderate, bold, and presumptuous worshippers!” (= kami dengan aman bisa menambahkan pada semua ini, bahwa setiap doa, teriakan yang keras, dsb, yang tidak disertai dengan rasa hormat yang dalam dan roh / semangat kesalehan yang murni, juga dikecam di sini. Dalam berapa ribu contoh hukum ini dilanggar dalam doa-doa, apakah doa yang dibacakan atau doa spontan, dari para penyembah yang berani dan lancang!).

• R. L. Dabney menganggap bahwa penggunaan ayat-ayat Kitab Suci secara tidak hormat juga melangar hukum ketiga ini. Demikian juga semua ibadah lahiriah atau yang dilakukan tanpa dijiwai.

R. L. Dabney: “the third Commandment requireth the holy and reverent use of God’s name, titles attributes, ordinances, word, and works; ‘and forbiddeth all profaning or abusing of anything whereby God maketh Himself known.’ ... this precept is meant to prohibit sins of profane cursing and swearing in all their forms. Among these abuses may also be classed all irreverent uses of Sacred Scripture; all heartless and formal worship, whether by praying or singing; all irreverence and levity in the house of God during the celebration of His worship or sacraments; all heed ejaculations of His name and attributes; and most flagrantly, perjury” (= ) - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 364.

Karena itu, jangan bergurau dengan menggunakan ayat-ayat Kitab Suci!

Calvin: “the greatest excuse which those have who want to decrease their fault here is that they cannot refrain because of habit” (= ) - ‘John Calvin’s Sermons On The Ten Commandments’, hal 91.

Thomas Manton (tentang Yak 5:12): “thy custom will not excuse thee; if it be thy custom to sin, it is God’s custom to destroy sinners” (= kebiasaanmu tidak akan memaafkan kamu; kalau itu merupa¬kan kebiasaanmu untuk berdosa, maka adalah kebiasaan Allah untuk menghancurkan orang-orang berdosa) - ‘James’, hal 436.

4) Pelanggaran terhadap hukum ketiga ini merupakan suatu dosa yang tidak remeh!

Ada banyak orang Kristen yang sekalipun tahu / mengerti bahwa mereka tidak boleh menggunakan nama Tuhan sekarang sembarangan, tetapi mereka tetap melakukannya. Kalau saudara menganggap bahwa pelanggaran terhadap hukum ini adalah dosa remeh, maka perhatikanlah hal-hal ini:

• Dalam 10 hukum Tuhan, hukum ini diletakkan pada urutan nomer 3!

• Kel 20:7b mengatakan: “TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut namaNya dengan sembarangan”.

• Dalam Perjanjian Lama pelanggaran terhadap hukum ini diancam dengan hukuman mati.

Im 24:10-16,23 - “(10) Pada suatu hari datanglah seorang laki-laki, ibunya seorang Israel sedang ayahnya seorang Mesir, di tengah-tengah perkemahan orang Israel; dan orang itu berkelahi dengan seorang Israel di perkemahan. (11) Anak perempuan Israel itu menghujat nama TUHAN dengan mengutuk, lalu dibawalah ia kepada Musa. Nama ibunya ialah Selomit binti Dibri dari suku Dan. (12) Ia dimasukkan dalam tahanan untuk menantikan keputusan sesuai dengan firman TUHAN. (13) Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: (14) ‘Bawalah orang yang mengutuk itu ke luar perkemahan dan semua orang yang mendengar haruslah meletakkan tangannya ke atas kepala orang itu, sesudahnya haruslah seluruh jemaah itu melontari dia dengan batu. (15) Engkau harus mengatakan kepada orang Israel, begini: Setiap orang yang mengutuki Allah harus menanggung kesalahannya sendiri. (16) Siapa yang menghujat nama TUHAN, pastilah ia dihukum mati dan dilontari dengan batu oleh seluruh jemaah itu. Baik orang asing maupun orang Israel asli, bila ia menghujat nama TUHAN, haruslah dihukum mati. ... (23) Demikianlah Musa menyampaikan firman itu kepada orang Israel, lalu dibawalah orang yang mengutuk itu ke luar perkemahan, dan dilontarilah dia dengan batu. Maka orang Israel melakukan seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa”.

Calvin (tentang Im 24:15): “Hence it not more clearly appears that the object of the Third Commandment was that God’s holy name should be honoured with the respect and veneration which it deserves, since the insult whereby it is violated is condemned to capital punishment” (= ) - hal 431.

• Yesus berkata dalam Mat 12:36-37 - “(36) Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. (37) Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.’”.

5) Renungkan: berapa kali saudara melanggar hukum ketiga ini? Dosa-dosa saudara karena melanggar hukum ketiga ini lebih dari cukup untuk membawa saudara ke neraka selama-lamanya! Karena itu percayalah kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat saudara!